Wabah Ebola di Kongo-Uganda Picu Status Darurat Global WHO

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 19 Mei 2026 | 20:10 WIB
Ilustrasi Gedung WHO. (Foto/doc. WHO)
Ilustrasi Gedung WHO. (Foto/doc. WHO)

BeritaNasional.com - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan keprihatinan mendalam atas skala dan kecepatan penyebaran wabah Ebola yang kini melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda. 

Merespons situasi kritis tersebut, Komite Darurat WHO langsung menggelar pertemuan khusus pada Selasa (19/5/2026) untuk merumuskan rekomendasi sementara.

Dalam pidatonya di Sidang Majelis Kesehatan Dunia ke-79, Tedros mengungkapkan dirinya telah menetapkan status Keadaan Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern) sejak Minggu lalu.

Langkah ini mencetak sejarah baru, karena untuk pertama kalinya seorang kepala WHO mendeklarasikan status darurat global secara langsung tanpa menunggu hasil rapat komite darurat.

"Saya tidak mengambil keputusan ini dengan gegabah," tegas Tedros yang dikutip dari Xinhua News pada Selasa (19/5/2026). 

Ia menjelaskan keputusan tersebut diambil berdasarkan Pasal 12 Peraturan Kesehatan Internasional setelah dirinya berkomunikasi langsung dengan menteri kesehatan dari kedua negara yang terdampak. 

"Saya sangat prihatin dengan skala dan kecepatan epidemi ini."

Hingga saat ini, Provinsi Ituri di DRC telah melaporkan 30 kasus positif Ebola. Sementara itu, Uganda mengonfirmasi dua kasus di ibu kotanya, Kampala, termasuk satu kasus kematian yang melibatkan seorang pelancong asal DRC.

Wabah ini bahkan telah lintas benua. Otoritas Amerika Serikat melaporkan satu warga negaranya terkonfirmasi positif Ebola dan kini telah dievakuasi ke Jerman untuk mendapatkan penanganan medis.

WHO menegaskan pihaknya terus berkoordinasi ketat dengan pemerintah DRC, Uganda, dan Amerika Serikat.

Selain kasus yang sudah terkonfirmasi, Tedros membeberkan bahwa ada lebih dari 500 kasus suspek (diduga) dan 130 kematian yang diduga kuat akibat Ebola. Angka-angka ini diprediksi akan terus melonjak seiring dengan perluasan pelacakan dan pengujian di lapangan.

Konflik Bersenjata Memperparah Keadaan

WHO mengidentifikasi beberapa faktor utama yang membuat wabah kali ini sangat mengkhawatirkan:

Penularan di Area Perkotaan: Virus telah menyusup ke pusat populasi padat seperti Kampala (Uganda) dan Kota Goma (DRC).

Ancaman Bagi Tenaga Medis: Adanya laporan kematian di kalangan petugas kesehatan mengindikasikan terjadinya penularan di fasilitas layanan kesehatan.

Krisis Pengungsi: Provinsi Ituri di DRC tengah diguncang eskalasi konflik bersenjata sejak akhir tahun 2005 yang memuncak dalam dua bulan terakhir. Pertempuran ini menyebabkan lebih dari 100.000 warga sipil mengungsi, memicu mobilisasi massa yang berpotensi mempercepat penyebaran virus.

Tantangan Terbesar Belum Ada Vaksin

Tantangan paling krusial dari wabah ini adalah jenis virus yang menyerang. Tedros menyebutkan bahwa epidemi kali ini disebabkan oleh virus spesies Bundibugyo. 

Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun terapi medis yang disetujui secara resmi untuk menjinakkan spesies Ebola yang satu ini.

Kendati demikian, WHO menegaskan bahwa rantai penularan masih sangat mungkin ditekan. 

Negara-negara terdampak diimbau untuk memperketat langkah-langkah preventif, termasuk menggencarkan komunikasi risiko dan membangun keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga sanitasi serta protokol kesehatan.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: