Terungkap! Taksi Tetap Ngegas di Posisi Netral hingga Tertemper KRL di Bekasi Timur
BeritaNasional.com - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap alasan taksi Green SM berhenti di perlintasan sebidang hingga tertemper KRL. Peristiwa ini merupakan bagian dari rangkaian kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur.
Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, menjelaskan bahwa awalnya taksi berjalan menurun dalam posisi gigi D dengan kecepatan sekitar 15 km/jam.
“Ini yang terjadi dari data onboard unit yang kami unduh. Taksi tersebut saat menurun pada posisi D berjalan normal dengan kecepatan sekitar 15 km/jam,” ujar Soerjanto dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Sopir taksi kemudian memindahkan posisi gigi ke N (netral) dan kendaraan meluncur dengan kecepatan 3 hingga 7 km/jam. KNKT tidak mengetahui alasan pengemudi memindahkan transmisi ke posisi netral.
“Kemudian kendaraan berpindah ke posisi N dan meluncur dengan kecepatan 3 hingga 7 km/jam. Kami tidak mengetahui alasan mengapa transmisi diposisikan netral,” jelasnya.
Selanjutnya, pengemudi mengerem saat kendaraan meluncur di jalan menurun. Namun saat tiba di perlintasan sebidang, pengemudi berusaha menginjak pedal gas dalam posisi gigi netral. Kendaraan tidak bergerak karena transmisi berada di N.
“Sesampainya di perlintasan sebidang, pengemudi mencoba menginjak gas hingga 25 persen, namun kendaraan tetap di posisi N dan tidak bergerak. Pengemudi kemudian menekan gas hingga 51 persen, tetapi kendaraan tetap tidak bergerak,” ujar Soerjanto.
Kemudian pengemudi sempat memindahkan tuas ke posisi D (drive), namun tidak menginjak pedal gas. Setelah itu, tuas berpindah ke posisi P (park), sementara pengemudi kembali mencoba menginjak gas. Karena berada di posisi P, kendaraan tetap tidak dapat bergerak.
“Pada pukul 20.46.43, tuas berada di posisi D, tetapi pengemudi tidak menginjak pedal gas. Kemudian tuas berpindah ke posisi P, dan pengemudi mencoba menginjak gas serta rem secara bergantian, namun kendaraan tetap tidak bergerak,” jelas Soerjanto.
KNKT juga menemukan bahwa pengemudi baru bekerja selama tiga hari. Perusahaan taksi hanya memberikan pelatihan singkat berupa teori dasar.
“Proses rekrutmen pengemudi secara normal berlangsung tiga hingga lima hari kerja. Pengenalan kendaraan dilakukan melalui kelas teori singkat, mencakup cara menghidupkan mobil, parkir, lampu indikator, knob transmisi, serta penggunaan sabuk pengaman. Tidak ada edukasi teknis terkait penanganan sistem saat terjadi error,” jelasnya.
KNKT juga menyebut tidak ditemukan masalah pada sistem kendaraan tersebut. Mobil telah lulus uji elektromagnetik kompatibilitas.
“Data onboard unit kendaraan B 2864 SBX tidak menunjukkan adanya error sistem dalam satu jam sebelum kejadian. Kendaraan juga telah lulus uji elektromagnetik kompatibilitas sesuai standar India, sementara di Indonesia belum diwajibkan,” pungkas Soerjanto.
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
BUDAYA | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu





