Konsumsi Minyak Dunia Menurun

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Jumat, 22 Mei 2026 | 17:00 WIB
Konsumsi minyak turun (Foto/Freepik)
Konsumsi minyak turun (Foto/Freepik)

BeritaNasional.com - Konsumsi minyak dunia saat ini mulai menurun di tengah krisis yang melanda Timur Tengah, demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol.

"Kami melihat permintaan minyak global sudah mulai menurun. Jika harga melonjak lebih tinggi lagi, penurunan ini akan semakin terlihat jelas," kata Birol dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Chatham House.

Birol mengatakan, situasi pasar minyak global dapat menjadi lebih sulit pada musim panas mendatang jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka.

"Masalahnya, pada akhir Juni hingga awal Juli, musim liburan dimulai. Apa artinya? Biasanya, permintaan dan konsumsi minyak akan melonjak. Akibatnya, stok minyak menipis, sementara tidak ada pasokan minyak baru yang keluar dari Timur Tengah. Situasi ini bisa menjadi sulit dan kita mungkin akan memasuki Zona Merah," jelasnya saat mengomentari kendala transportasi dari Teluk Persia.

Menurut Birol, krisis saat ini telah menjadi lebih besar daripada gabungan seluruh krisis energi yang pernah terjadi sebelumnya.

Ia mengatakan, pasar telah kehilangan pasokan sekitar 14 juta barel minyak per hari. Sebagai perbandingan, selama guncangan minyak pada tahun 1970-an, gangguan pasokan hanya mencapai 10 juta barel.

Selain itu, hilangnya pasokan gas kini telah melampaui 130 miliar meter kubik.

Pasar memasuki krisis saat ini dengan kondisi surplus minyak dan cadangan yang tinggi, yang awalnya membantu meredam dampak guncangan.

Namun, bantalan tersebut perlahan mulai habis. Birol menyebutkan bahwa negara-negara anggota IEA telah melepaskan cadangan darurat mereka ke pasar, sementara beberapa negara juga telah mengurangi konsumsi.

Kendati demikian, seluruh langkah tersebut dinilai belum cukup.

"Satu-satunya solusi paling penting untuk masalah ini adalah pembukaan Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat," tegasnya.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, yang menyebabkan kerusakan dan jatuhnya korban sipil.

Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu.

Perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, dan Trump memperpanjang penghentian permusuhan guna memberikan waktu bagi Iran untuk menyusun "proposal terpadu."

Eskalasi di sekitar Iran ini telah memicu blokade de facto di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dari Teluk Persia ke pasar global.

Kondisi itu juga berdampak langsung pada ekspor dan produksi minyak.

Akibat blokade tersebut, sebagian besar negara di dunia kini menghadapi kenaikan harga bahan bakar dan produk-produk industri.


Sumber: Antara
 sinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: