Kelangkaan Minyak Dunia Teratasi, Pertamax Diperkirakan Turun Juli 2026

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Selasa, 23 Juni 2026 | 15:35 WIB
Warga melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Cikini, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)
Warga melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Cikini, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com -  Meredanya ketegangan Amerika Serikat-Iran hingga dibukanya Selat Hormuz berdampak baik terhadap harga minyak dunia yang disebut mulai turun setelah sebelumnya terjadi kelangkaan. Situasi ini menurut pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi juga dapat membuat harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pertamax.  Ia pun memperkirakan penurunan harga pertamax Juli 2026.

“Mestinya, awal Juli ini pertamax akan diturunkan harganya,” ujarnya. 

Harga minyak dunia kini berada pada kisaran level 80 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Harga ini jauh lebih rendah setelah sempat melampaui level 100 dolar AS per barel pada puncak ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Situasi ini diperparah saat Iran menutup Selat Hormuz yang membuat kelangkaan minyak dunia. 

Ia pun menilai perundingan antara Iran dengan AS masih bersifat dinamis, sebab hasil dari perundingan tersebut belum menjamin terjadinya perdamaian.

“Jadi, masih fluktuasi entah sampai kapan. Tetapi, khusus untuk Indonesia, kalau harga pertamax di atas harga pasar ketika dievaluasi, maka pemerintah harus menurunkannya,” terangnya.

Melansir Antara, Selasa (23/6/2026) Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berpendapat harga pertamax berpotensi turun seiring pergerakan harga minyak dunia.

Perekonomian global mendapat harapan dari terbukanya peluang perdamaian antara AS dan Iran.

Bila perdamaian itu terwujud stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan membaik, biaya dana atau cost of fund makin kompetitif, dan investasi terus menguat. (Antara)

 sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: