Mesir dan UEA Gelar Pertemuan Bahas Perdamaian AS-Iran
BeritaNasional.com - Pemerintah Mesir terus bergerak meredam potensi gejolak baru di kawasan Timur Tengah. Melalui jalur diplomasi, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty menggelar pembicaraan telepon terpisah dengan Menlu Uni Emirat Arab (UEA) dan Menlu Siprus guna membahas perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kementerian Luar Negeri Mesir mengonfirmasi, dalam dialog bersama Menlu UEA Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan, eskalasi situasi regional bergerak cepat seiring bergulirnya perundingan Washington-Teheran.
Dalam kesempatan tersebut, Abdelatty menegaskan jalur meja perundingan adalah harga mati.
Menurut dia, diplomasi merupakan satu-satunya solusi konkret untuk mengurai ketegangan sekaligus membentengi kawasan dari risiko perang yang lebih masif.
Meski demikian, Kairo mengingatkan agar kesepakatan apa pun yang lahir di masa depan tidak mengorbankan stabilitas kawasan.
Abdelatty menekankan pentingnya mengakomodasi kekhawatiran keamanan negara-negara Teluk demi menjaga kedaulatan nasional Arab dan mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan.
Siprus Apresiasi Langkah Mesir
Tak hanya dengan sekutu Teluk, isu krusial ini juga dibahas Abdelatty bersama Menlu Siprus, Constantinos Kombos.
Kedua diplomat tersebut saling bertukar pandangan mengenai peta jalan negosiasi AS-Iran serta formula terbaik untuk meredakan ketegangan politik di kawasan.
Abdelatty memaparkan sejumlah langkah strategis yang tengah ditempuh Mesir dalam berkoordinasi dengan para mitra regional.
Ia menggarisbawahi bahwa dunia internasional perlu memperkuat sinergi demi mendorong solusi damai, agar Timur Tengah tidak terperosok ke dalam fase ketidakstabilan baru.
Langkah proaktif Mesir ini pun mendapat respons positif. Menlu Siprus menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi Kairo yang terus berupaya menciptakan ketenangan di wilayah yang rawan konflik tersebut.
Babak Baru Pascagencatan Senjata
Hubungan AS dan Iran sendiri sempat memanas lewat kontak senjata selama 40 hari, sebelum akhirnya kedua negara sepakat melakukan gencatan senjata pada 8 April lalu.
Pasca-gencatan senjata, Washington dan Teheran sebenarnya sempat duduk bersama dalam dialog damai di Islamabad, Pakistan, pada 11-12 April. Sayangnya, pertemuan perdana tersebut menemui jalan buntu dan gagal menelurkan kesepakatan.
Kendati demikian, sinyal damai kembali menguat dalam beberapa pekan terakhir. Kedua belah pihak dilaporkan mulai melunak dan intens saling melempar proposal draf yang berisi poin-poin persyaratan untuk menyepakati perdamaian jangka panjang.
Sumber: Xinhua News
GAYA HIDUP | 1 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 15 jam yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 19 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
DUNIA | 1 hari yang lalu







