Genjot AI, Microsoft Gandeng Chevron Bangun Pusat Data Bertenaga Gas Terbesar di AS

Oleh: Tarmizi Hamdi
Selasa, 23 Juni 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi data center atau pusat data. (Foto/Magnific)
Ilustrasi data center atau pusat data. (Foto/Magnific)

BeritaNasional.com - Raksasa teknologi Microsoft resmi menggandeng perusahaan energi Chevron untuk menggarap salah satu proyek terintegrasi terbesar di Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari TechCrunch pada Selasa (23/6/2026), dua megakorporasi ini mengumumkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga gas alam berkapasitas 2,67 gigawatt (GW) di wilayah Texas Barat.

Pembangkit listrik ini dibangun khusus demi menopang kebutuhan daya pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan (AI) dan layanan cloud milik Microsoft.

Melalui perjanjian pembelian daya (PPA) berdurasi 20 tahun, Microsoft berkomitmen menyerap seluruh pasokan listrik dari fasilitas tersebut.

Spesifikasi Teknis Proyek

Chevron menyebut proyek ini sebagai salah satu pengembangan terpadu antara pembangkit listrik gas alam dan pusat data terbesar di negeri Paman Sam.

Untuk menyuplai energi raksasa tersebut, proyek ini akan mengandalkan infrastruktur canggih. Yakni, dua turbin raksasa GE Vernova yang akan memproduksi sebagian besar daya utama. Lalu, Solar Turbines (anak usaha Caterpillar) menyediakan unit turbin tambahan untuk melengkapi kebutuhan sisa daya.

Langkah strategis ini sebenarnya bukan hal yang mengejutkan, Microsoft telah memberikan sinyal tersebut selama beberapa bulan terakhir. 

Namun, proyek ini memicu sorotan tajam karena dinilai kontradiktif dengan kampanye keberlanjutan (sustainability) yang selama ini gencar digaungkan perusahaan tersebut.

Microsoft sebelumnya berkomitmen mencapai target bebas emisi karbon (carbon negative) pada 2030. Hadirnya pembangkit listrik berbasis fosil yang baru ini dinilai akan mempersulit target ambisius tersebut.

Ancaman Dampak Lingkungan Proyek Kilby

Proyek yang diberi nama Proyek Kilby ini berpotensi membawa dampak lingkungan yang tidak sedikit. 

Berdasarkan data dari Environmental Integrity Project, operasional fasilitas ini diperkirakan bakal melepas emisi karbon lebih dari 13 juta ton karbon dioksida. Polutan udara Mencapai 3.200 ton berbahaya. Lalu, sekitar 278.000 pon polutan udara berbahaya (HAPs) zat pencemar udara.

Tingginya angka emisi ini kini memicu perdebatan panas di AS mengenai dilema antara masifnya ekspansi teknologi AI dan konsekuensi kerusakan lingkungan yang harus dibayar.

Sumber: TechCrunchsinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: