PBB Sebut Aktivitas Militer Israel Picu Lonjakan Pengungsi dan Krisis Kemanusiaan di Tepi Barat
BeritaNasional.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan adanya lonjakan signifikan jumlah warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal di Tepi Barat, Palestina.
Kondisi ini dipicu oleh intensifikasi aktivitas militer Israel, perluasan permukiman ilegal, serta pengetatan pembatasan ruang gerak warga.
Berdasarkan laporan terbaru dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) yang dikutip pada Sabtu (11/7/2026), situasi di wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur kian memprihatinkan.
Selain operasi militer yang agresif, warga Palestina juga harus menghadapi ancaman pembongkaran paksa bangunan serta aksi kekerasan yang terus berulang dari kelompok pemukim Israel.
"Dampak akumulatif dari tindakan ini sangat mengkhawatirkan. Semakin banyak warga Palestina yang terpaksa mengungsi, risiko keselamatan warga sipil terus meningkat, sementara akses terhadap tempat tinggal yang layak, sumber mata pencaharian, serta layanan publik esensial kini menjadi sangat terbatas," tulis OCHA dalam pernyataan resminya.
Angka Pengungsian Melonjak Dua Kali Lipat
Data OCHA menunjukkan tren penggusuran yang mengerikan sepanjang tahun ini. Serangan pemukim dan pembongkaran rumah akibat ketiadaan izin dari otoritas Israel telah menyebabkan lebih dari 3.200 warga Palestina kehilangan tempat tinggal.
Angka ini setara dengan rata-rata 17 orang terpaksa mengungsi setiap hari. Angka ini meningkat dua kali lipat dibanding rata-rata harian selama tiga tahun terakhir.
Hanya dalam kurun waktu sejak awal bulan ini, tercatat ada 24 bangunan warga Palestina yang dihancurkan oleh otoritas Israel.
Akibatnya, 67 orang kehilangan tempat tinggal. Ironisnya, dua di antara bangunan yang diratakan dengan tanah tersebut merupakan fasilitas bantuan kemanusiaan yang didanai oleh donatur internasional.
Otoritas Israel berdalih pembongkaran ini dilakukan karena bangunan tersebut tidak memiliki izin resmi.
Padahal, PBB menegaskan warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat memperoleh izin mendirikan bangunan.
Upaya Kemanusiaan di Tengah Pembatasan
Meskipun dihadapkan pada hambatan operasional dan blokade wilayah yang ketat, lembaga-lembaga kemanusiaan di bawah koordinasi PBB terus bergerak memberikan bantuan darurat.
Sepanjang paruh pertama tahun ini, jaringan kemanusiaan yang berfokus pada perlindungan anak berhasil menjangkau lebih dari 5.300 anak dan 1.670 pendamping di Provinsi Yerusalem.
Bantuan yang disalurkan meliputi dukungan psikososial untuk mengatasi trauma, program pengasuhan, bantuan kedaruratan, hingga layanan esensial lainnya.
Sementara itu, di sektor pendidikan, sekitar 60.000 anak di seluruh Tepi Barat dan Yerusalem Timur telah difasilitasi melalui program pembelajaran tambahan dan remedial.
Tim kemanusiaan juga sukses merampungkan rehabilitasi darurat pada 32 sekolah yang mengalami kerusakan demi memastikan hak belajar anak-anak tetap terpenuhi.
Situasi Gaza: Pekerja Kemanusiaan Ditembak dan Wabah Penyakit Mengganas
Selain di Tepi Barat, badan dunia beserta para mitranya terus berupaya menyokong jutaan warga di Jalur Gaza yang terjebak dalam krisis pengungsian berkepanjangan.
Sayangnya, jaminan keselamatan bagi para pekerja kemanusiaan di lapangan berada pada titik terendah.
Organisasi bantuan pangan internasional, World Central Kitchen (WCK), melaporkan bahwa salah seorang pengemudi dari mitra logistik mereka tewas ditembak oleh pasukan Israel.
Insiden tragis itu terjadi saat korban tengah mengangkut pasokan bantuan dari pintu perbatasan Kerem Shalom (Karem Abu Salem) menuju gudang logistik WCK di Gaza. Pihak WCK mengutuk keras kejadian ini dan menuntut pertanggungjawaban penuh atas pembunuhan tersebut.
Kondisi di Gaza diperparah oleh sanitasi buruk dan lingkungan kamp yang tidak layak sehingga memicu ledakan penyakit menular.
Dalam sepekan terakhir, tim medis kemanusiaan telah melakukan lebih dari 243 ribu konsultasi kesehatan di sekitar 200 titik layanan di seluruh Jalur Gaza.
Infeksi saluran pernapasan akut dan penyakit kulit menjadi keluhan yang paling mendominasi, disusul oleh lonjakan penyakit yang ditularkan melalui air bersih yang tercemar, khususnya di wilayah Khan Younis.
Laporan OCHA juga mengonfirmasi adanya lebih dari 18 ribu kasus baru penyakit cacar air, kutu, serta impetigo (infeksi bakteri pada kulit) dalam beberapa waktu belakang.
Krisis ini semakin kritis karena operasional pelayanan medis sangat terbatas. Para mitra kesehatan memperingatkan bahwa kelangkaan serta tingginya harga bahan bakar minyak, oli generator, ketiadaan suku cadang mesin, hingga minimnya pasokan obat-obatan dasar mengancam layanan kesehatan bagi para pengungsi.
Sumber: Xinhua News
HUKUM | 2 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu






