Apa Itu Tokenized ETF? Simak Cara Kerja, Keunggulan, dan Risikonya
BeritaNasional.com - Investasi di pasar saham Amerika Serikat seperti S&P 500 dan Nasdaq-100 selama ini menjadi pilihan banyak investor.
Namun, akses ke instrumen tersebut kerap terkendala syarat pembukaan akun broker luar negeri, modal awal yang tidak sedikit, hingga perbedaan jam perdagangan.
Kini, teknologi blockchain menghadirkan alternatif melalui tokenized ETF. Produk ini memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap ETF global dalam bentuk token digital yang dapat dibeli melalui wallet crypto, tanpa harus membuka rekening di broker asing.
Mengutip Pintu Academy, Selasa (14/7/2026) tokenized ETF merupakan representasi digital dari ETF yang diterbitkan di blockchain, seperti Ethereum atau Solana. Nilai token tetap mengikuti harga ETF yang menjadi aset dasarnya, misalnya SPY yang melacak indeks S&P 500 atau QQQ yang mengikuti Nasdaq-100.
Dengan demikian, ketika harga ETF acuan naik atau turun, nilai token juga bergerak mengikuti pergerakan tersebut.
Pasarnya Tumbuh Signifikan
Minat terhadap tokenized ETF terus meningkat. Hingga Juni 2026, kapitalisasi pasar sektor ini telah mencapai sekitar US$150 juta, atau melonjak hampir 400 persen dibandingkan September 2025.
Saat ini terdapat dua pendekatan utama dalam tokenisasi ETF. Model synthetic hanya mereplikasi harga melalui instrumen derivatif tanpa memiliki aset fisik. Sementara model regulated atau native menerbitkan token yang didukung ETF asli yang disimpan oleh kustodian.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Skemanya dimulai ketika manajer aset membeli ETF di bursa konvensional. Setelah disimpan oleh kustodian, aset tersebut diterbitkan dalam bentuk token di jaringan blockchain dengan nilai yang setara.
Proses transaksi memanfaatkan smart contract yang juga menjalankan verifikasi kepatuhan, termasuk prosedur Know Your Customer (KYC) dan Anti-Money Laundering (AML).
Keunggulan lainnya terletak pada sistem penyelesaian transaksi. Jika ETF konvensional masih menggunakan mekanisme T+2, tokenized ETF mengadopsi atomic settlement, sehingga perpindahan aset dan pembayaran berlangsung dalam satu proses secara hampir instan.
Apa Bedanya dengan ETF Konvensional?
Dibanding ETF tradisional, tokenized ETF menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi.
Investor dapat bertransaksi hampir sepanjang waktu, tidak terbatas pada jam operasional bursa. Instrumen ini juga mendukung pembelian dalam jumlah kecil atau fractional ownership, sehingga modal yang dibutuhkan lebih terjangkau.
Selain itu, akses terhadap ETF global menjadi lebih praktis karena cukup menggunakan wallet crypto tanpa proses pembukaan rekening broker internasional.
Tetap Memiliki Risiko
Di balik kemudahannya, tokenized ETF tetap menyimpan sejumlah risiko yang perlu dipahami investor.
Pada sebagian besar produk, investor tidak memiliki saham atau ETF secara langsung. Kepemilikan yang dimiliki berupa hak klaim terhadap kustodian atau special purpose vehicle (SPV) yang menyimpan aset dasar.
Likuiditas juga berpotensi berbeda di setiap blockchain atau platform sehingga harga token yang sama dapat mengalami selisih ketika volume perdagangan rendah.
Risiko lain berasal dari penggunaan smart contract. Apabila ditemukan celah keamanan atau kesalahan pada kode, aset dapat terdampak tanpa adanya mekanisme perlindungan seperti di sistem keuangan tradisional. Karena itu, memilih platform yang telah melalui audit keamanan menjadi hal yang penting.
Siapa Pemain Besarnya?
Sejumlah perusahaan mulai mendominasi pasar tokenized ETF.
Ondo Finance menawarkan lebih dari 400 saham dan ETF tokenized dengan total value locked (TVL) melebihi US$899 juta dan volume transaksi kumulatif lebih dari US$9 miliar.
Sementara xStocks yang dikembangkan Backed telah menghadirkan lebih dari 100 saham dan ETF tokenized dengan volume perdagangan sekitar US$25 miliar sejak pertengahan 2025.
Di sisi institusional, BlackRock BUIDL yang diterbitkan melalui Securitize menjadi salah satu produk tokenisasi aset terbesar dengan aset kelolaan melampaui US$4 miliar. Produk ini masih diperuntukkan bagi investor institusi dengan investasi minimum US$5 juta.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 21 jam yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 19 jam yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu






