Wamenkomdigi Sebut Indonesia Harus Kuasai Hulu AI dan Infrastruktur untuk Bersaing di Kancah Global
BeritaNasional.com - Pemerintah terus mendorong Indonesia agar tidak sekadar menjadi penonton atau pasar di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI).
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan pentingnya memperkuat fondasi infrastruktur pendukung AI agar Indonesia mampu menembus rantai pasok global (global supply chain).
Menurut Nezar, peta persaingan AI di tingkat dunia kini telah bergeser. Fokusnya bukan lagi sekadar membuat aplikasi di bagian hilir, melainkan beralih ke penguasaan sektor hulu seperti penyediaan energi, pusat data (data center), chip semikonduktor, kapasitas komputasi, hingga kesiapan talenta digital.
“Kita selama ini disibukkan bermain di hilir, tapi kita melupakan yang hulu. Padahal hilir itu cuma produk akhir yang mungkin lebih tepat buat negara-negara yang menjadikan dirinya sebagai pasar, sementara yang di hulu, infrastruktur AI ini sangat penting,” kata Nezar yang dikutip dari Antara pada Kamis (16/7/2026).
Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat besar untuk masuk ke rantai pasok teknologi dunia.
Salah satunya adalah cadangan sumber daya alam melimpah yang menjadi bahan baku utama pembuatan perangkat keras teknologi.
“Potensi Indonesia untuk masuk ke global supply chain itu cukup besar. Kalau kita lihat di infrastruktur untuk membuat semikonduktor dibutuhkan pasir silika. Ada 340 juta ton kurang lebih cadangan pasir silika di Indonesia,” ujar Nezar.
Namun, kekayaan alam ini tidak akan berarti banyak tanpa adanya proses pengolahan yang bernilai tambah tinggi. Nezar menekankan bahwa program hilirisasi industri harus dieksekusi secara nyata, khususnya di sektor elektronik yang kini bergerak sangat dinamis.
“Jadi, saya kira hilirisasi itu bukan cuma slogan ya. Hilirisasi adalah downstreaming dari mineral dan bahan-bahan lain. Ini adalah langkah strategis yang harus dieksekusi oleh semua stakeholder yang ada di Indonesia, terutama di industri elektronik yang sedang bergerak sangat dinamis saat ini,” lanjutnya.
Menciptakan Choke Point Lewat Kolaborasi
Nezar juga mendorong adanya kolaborasi erat antar-pemangku kepentingan demi memperkuat posisi tawar (bargaining position) Indonesia di mata dunia.
Dengan menguasai komponen hulu yang krusial, Indonesia berpeluang menciptakan daya tawar strategis atau choke point dalam industri semikonduktor global.
“Butuh kolaborasi semua stakeholder di bidang infrastruktur ini untuk bisa memperbesar bargaining position kita. Kita harus bisa menciptakan choke point. Kalau kita bicara soal industri semikonduktor, siapa yang akan mengontrol jalur supply chain ini adalah negara-negara yang bisa menciptakan choke point,” tegas Nezar.
Selain infrastruktur fisik, kesiapan sumber daya manusia (SDM) atau talenta digital juga menjadi pilar penentu.
Menurut Nezar, talenta yang mumpuni merupakan kunci cerdas untuk menyiasati berbagai keterbatasan infrastruktur yang saat ini masih dihadapi Indonesia.
Pada akhirnya, keberhasilan Indonesia di era kecerdasan buatan ini sangat bergantung pada keberanian dalam membangun ekosistem pendukung secara menyeluruh dari hulu hingga ke hilir. Langkah yang diambil hari ini akan menjadi penentu masa depan bangsa.
“Masa depan AI sedang ditulis di Asia, dan Indonesia punya peran penting dalam narasi ini. Pilihan kebijakan yang kita ambil hari ini akan menentukan siapa yang menikmati manfaat AI di masa depan,” tandasnya.
Sumber: Antara
HUKUM | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 22 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 23 jam yang lalu





