Rahasia Luis de la Fuente Sulap La Roja Jadi Monster Menakutkan di Piala Dunia 2026

Oleh: Tarmizi Hamdi
Jumat, 17 Juli 2026 | 10:00 WIB
Pelatih Timnas Spanyol Luis de la Fuente (kanan) memeluk anak asuhnya, Lamine Yamal. (Foto/FIFA)
Pelatih Timnas Spanyol Luis de la Fuente (kanan) memeluk anak asuhnya, Lamine Yamal. (Foto/FIFA)

BeritaNasional.com - Tim Nasional (Timnas) Spanyol kini berada di ambang sejarah besar untuk kembali merengkuh takhta tertinggi sepak bola sejagat. 

Keberhasilan timnas berjuluk La Roja ini melaju ke partai pemungkas Piala Dunia 2026 terjadi setelah menumbangkan Prancis dengan skor meyakinkan 2-0 di babak semifinal. 

Pencapaian ini makin menegaskan kejeniusan Luis de la Fuente sejak menukari tim pada Desember 2022.

Mantan rekan setim sekaligus koleganya di akademi Sevilla, Manolo Jimenez, memberikan kesaksian mengenai kepribadian luar biasa sang pelatih sejak masa muda.

“Luis dan saya adalah rekan satu tim selama beberapa tahun dan kemudian kami menjadi kolega di akademi muda Sevilla. Saya harus mengatakan, di atas segalanya, dia adalah orang yang baik dan kolega yang hebat,” kata mantan bek kiri itu yang dikutip dari laman resmi FIFA pada Jumat (17/7/2026).

Jimenez menambahkan De la Fuente adalah sosok yang tidak pernah bersenang-senang di atas kemudahan, melainkan seorang pekerja keras yang mendedikasikan hidupnya untuk menempa para pesepak bola muda agar terus berkembang.

“Bahkan, sejak dulu, dia selalu ingin membantu pemain muda dan terus berkembang dalam permainan. Dia bekerja sangat keras dan tidak pernah menyerah; dia telah mendapatkan semua yang telah dia raih. Melihatnya hari ini, di puncak sepak bola Spanyol, sungguh fantastis. Bagi saya, sungguh luar biasa melihat orang baik, kolega yang baik, pemain sepak bola yang baik, dan pelatih yang baik mencapai kesuksesan seperti itu,” katanya.

Awal mula kedatangan De la Fuente ke federasi juga menyisakan kesan mendalam bagi Tito Blanco, yang pertama kali bertemu sang pelatih saat dirinya menjabat sebagai Wakil Presiden Asosiasi Sepak Bola Spanyol (RFEF).

“Itu terjadi pada 2011 atau 2012. Dia datang menemui saya di Madrid dan meminta pekerjaan. Saya tidak mengenalnya secara pribadi, tetapi kami pernah bermain melawan satu sama lain beberapa kali. Dia jauh lebih tua dari saya. Dia tampak sangat tulus, dan memang demikian,” papar Blanco.

Ketika De la Fuente akhirnya naik jabatan untuk menangani tim nasional senior setelah satu dekade mengabdi di tim kelompok umur, Blanco merasa keputusan federasi sudah sangat tepat karena sang pelatih memiliki karakter yang kuat.

“Saya menemukan bahwa dia adalah orang yang luar biasa, seseorang dengan karakter yang hebat. Saat itu, dia sudah menghabiskan lebih dari sepuluh tahun bekerja untuk Asosiasi Sepak Bola Spanyol. Ketika dia dipromosikan menjadi pelatih tim nasional senior, kami tahu bahwa kami membuat keputusan yang tepat dan tidak mengambil risiko yang tidak perlu. Saya rasa tidak ada kandidat yang lebih baik untuk pekerjaan itu,” papar Blanco.

Sementara itu, Santi Denia yang menjadi rekan kerja De la Fuente selama 14 tahun di federasi menilai lamanya durasi kerja di level junior memberikan keuntungan besar bagi sang pelatih dalam memahami karakter dan dinamika para pemain Spanyol saat ini.

“Bekerja bersama memberi kami kesempatan luar biasa untuk belajar dan mengenal generasi pemain yang sedang naik daun. Pada saat ia mencapai tim nasional senior, ia sudah mengenal para pemain dengan baik, dan ia memiliki pemahaman yang baik tentang dinamika tim dan apa yang akan berhasil. Ini benar-benar berbeda dari sepak bola klub. Kami telah melakukan kesalahan di masa lalu, tetapi itu berarti kami telah banyak belajar,” tutur Denia.

Menurut dia, kunci utama dari rentetan trofi yang diraih Spanyol baru-baru ini seperti Nations League 2023 dan Euro 2024 adalah sentuhan personal De la Fuente yang sangat lihai dalam menerapkan pendekatan manusiawi kepada anak asuhnya.

“Luis adalah seorang ahli dalam mengelola tim. Dia memahami bagaimana pemain berperilaku, dia tahu bagaimana membimbing mereka, dan dia merasakan siapa yang harus memulai setiap pertandingan. Dia menambahkan sentuhan pribadinya pada model yang sudah mapan, dengan mempertimbangkan profil pemain,” ucap Denia.

Kelebihan De la Fuente ternyata tidak terbatas pada urusan taktik di lapangan hijau semata, melainkan juga kemampuannya memimpin puluhan staf pendukung yang berada di balik layar.

“Kita tidak hanya berbicara tentang para pemain, tetapi tim yang terdiri dari 50 hingga 70 orang. Itu tidak mudah, dan dia benar-benar menguasai keterampilan mengelola orang,” jelas Denia.

Legenda sepak bola Spanyol, Fernando Hierro, turut memuji pembawaan tenang De la Fuente yang berhasil menciptakan keharmonisan luar biasa di dalam skuad.

“Luis tenang dan dia memahami bagaimana lingkungan tim nasional bekerja. Dia mengenal para pemain dan kualitas mereka, dan dia memiliki pemahaman yang luar biasa tentang kumpulan bakat di sepak bola Spanyol,” tuturnya.

Hierro melihat atmosfer positif tersebut sebagai modal krusial, terutama dalam turnamen panjang seperti Piala Dunia di mana seluruh anggota tim harus mengisolasi diri dan hidup bersama dalam waktu yang lama.

“Mereka seperti keluarga yang sangat dekat. Mereka menikmati waktu bersama dan benar-benar bersenang-senang. Itu menciptakan suasana yang luar biasa. Di Piala Dunia, di mana orang-orang menghabiskan begitu banyak waktu untuk tinggal dan bekerja bersama, hal itu menjadi sangat penting,” ucapnya.

Diketahui, di laga final Piala Dunia 2026, La Roja bakal berhadapan dengan Timnas Argentina pada Senin (20/7/2026) pukul 02.00 WIB. sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: