Kemendag Diminta Hadirkan Program Menyentuh Masyarakat Khusus UMKM

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Jumat, 17 Juli 2026 | 23:00 WIB
Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron. (BeritaNasional/dok Demokrat)
Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron. (BeritaNasional/dok Demokrat)

BeritaNasional.com -  Kementerian Perdagangan (Kemendag) diminta menghadirkan program yang lebih menyentuh masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan pedagang di pasar rakyat.

Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron menyebut program seperti revitalisasi pasar tradisional, peningkatan fasilitas berdagang, hingga pendampingan UMKM  perlu kembali dikuatkan agar manfaat kebijakan perdagangan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kementerian Perdagangan ini memegang peranan penting di dalam membuka pasar-pasar baru dan meningkatkan perdagangan baik dalam negeri maupun luar negeri. Dan bahkan dalam konteks untuk modernisasi di pasar dalam negeri,” terangnya. 

Sementara itu menurut  anggota Komisi VI DPR Mufti Aimah Nurul Anam Kemendag penting memperkuat pengamanan pasar dalam negeri. Hal ini bertujuan melindungi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dari banyaknya produk impor.

Menurutnya banyak UMKM, khususnya sektor konveksi dan tekstil menghadapi tekanan berat akibat serangan produk impor berharga murah di pasar domestik. Kondisi ini membuat pelaku usaha lokal semakin sulit bersaing, meskipun produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik.

“Persoalannya bukan karena kualitas produk UMKM kalah bersaing, tetapi karena pasar dalam negeri dibanjiri produk impor dengan harga yang jauh lebih murah,” cetusnya.

Dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI bersama Kementerian Perdagangan dan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Kamis (16/7/2026) tersebut Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah terus memperkuat pembinaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar ekspor dan masuk ke jaringan ritel modern, meski di tengah keterbatasan anggaran.

Selama tahun 2025 Kemendag telah memfasilitasi 100 UMKM yang siap ekspor dengan potensi transaksi mencapai 134 juta dolar AS atau sekitar Rp2 triliun. Sedangkan periode Januari-Mei 2026, jumlah transaksi UMKM telah mencapai 193 juta dolar AS.

Sekitar 70% pelaku usaha yang mengikuti program tersebut merupakan eksportir baru, sementara seluruh proses "business matching" dilakukan secara daring sehingga lebih efisien dan tidak membebani anggaran negara.

“Jadi itu sebenarnya kita terus melakukan pembinaan ke UMKM untuk ekspor dan juga kemitraan untuk di dalam negeri. Jadi kalau tadi disampaikan, kita seolah-olah tidak bersentuhan dengan UMKM, sebenarnya kita itu banyak memfasilitasi UMKM kita untuk masuk ritel modern,” paparnya.

Budi mengatakan kementerian terus memberikan pelatihan, pendampingan, peningkatan kualitas produk, serta penguatan desain dan branding agar produk UMKM mampu memenuhi kebutuhan pasar, baik di dalam negeri maupun di pasar ekspor," tukasnya.sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: