Mengenal Devaluasi, Langkah Jitu Perkuat Ekonomi

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Jumat, 24 Juli 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi devaluasi (BeritaNasional/Freepik)
Ilustrasi devaluasi (BeritaNasional/Freepik)

BeritaNasional.com -  Tahukah kamu pemerintah dalam kondisi tertentu, bisa menurunkan nilai mata uang atau nilai kurs negaranya terhadap mata uang asing. Kebijakan tersebut yakni devaluasi dan biasanya dilakukan untuk mencapai tujuan ekonomi tertentu.

Devaluasi merupakan kebijakan pemerintah untuk menurunkan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang asing demi tujuan ekonomi tertentu.

Tapi tunggu dulu! Devaluasi tidak dilakukan secara sembarangan loh. Hal ini karena harus mempertimbangkan berbagai faktor.

Berikut ulasan singkat tentang devaluasi, jenis hingga faktor penyebab, dilansir dari laman Pegadain

Apa Itu Devaluasi?

Devaluasi merupakan kebijakan pemerintah untuk menurunkan nilai mata uang suatu negara dibandingkan dengan mata uang asing sebagai upaya mengatasi masalah ekonomi.

Ketika nilai mata uang turun, produk dalam negeri menjadi lebih kompetitif di pasar internasional sehingga peluang ekspor meningkat. Sebaliknya, barang dari luar negeri menjadi lebih mahal sehingga impor cenderung berkurang.

Kebijakan devaluasi bertujuan untuk memperkuat perekonomian, meningkatkan pendapatan dari ekspor, dan membantu menyeimbangkan neraca pembayaran. Meski demikian, devaluasi juga dapat menyebabkan harga barang impor naik sehingga berpotensi mendorong inflasi.

Jenis-Jenis Devaluasi

1. Devaluasi Halus

Devaluasi halus adalah penurunan nilai mata uang dengan dampak yang relatif kecil, yaitu sekitar 5% per tahun. Mengingat penurunannya yang tidak terlalu besar, kebijakan ini umumnya tidak memberikan perubahan yang signifikan terhadap kondisi ekonomi suatu negara.

2. Devaluasi Sedang

Devaluasi sedang adalah penurunan nilai mata uang yang berkisar antara 5% hingga 15% per tahun. Dampaknya lebih terasa dibandingkan dengan devaluasi halus, tetapi masih berada pada tingkat yang dapat dikendalikan.

3. Devaluasi Cepat

Devaluasi cepat adalah penurunan nilai mata uang sekitar 15% hingga 25% per tahun. Kondisi ini dapat meningkatkan daya saing produk ekspor karena harganya menjadi lebih murah di pasar internasional.

Namun, di sisi lain, harga barang impor juga naik sehingga mulai berdampak pada pengeluaran masyarakat dan pelaku usaha yang bergantung pada produk dari luar negeri.

4. Devaluasi Terus-Menerus

Devaluasi terus-menerus adalah penurunan nilai mata uang yang melebihi 25% dan berlangsung secara berkelanjutan. Kondisi ini biasanya menjadi tanda bahwa perekonomian suatu negara sedang mengalami masalah atau bahkan krisis ekonomi.

 

Contoh Devaluasi

1. Devaluasi Tahun 1978

Devaluasi tahun 1978 dilakukan karena pendapatan negara dari ekspor minyak bumi menurun, sehingga memicu defisit anggaran. Untuk mengatasinya, pemerintah menurunkan nilai rupiah dengan menaikkan kurs dolar AS dari Rp415 menjadi Rp625.

Pada saat yang sama, pemerintah juga mengubah sistem nilai tukar menjadi mengambang terkendali (managed floating exchange rate). Hal ini menyebabkan nilai rupiah bergerak mengikuti kondisi pasar dengan tetap diawasi oleh pemerintah.

2. Devaluasi Tahun 1983

Pada 30 Maret 1983, pemerintah melakukan devaluasi rupiah dengan menurunkan nilainya sekitar 48%, dari Rp702,5 menjadi Rp970 per dolar AS.

Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekspor nonmigas serta mengurangi ketergantungan pada penerimaan dari sektor minyak dan gas di tengah perubahan kondisi ekonomi global.

3. Devaluasi Tahun 1986

Pada 12 September 1986, pemerintah kembali melakukan devaluasi dengan menurunkan nilai tukar rupiah sekitar 47%, dari Rp1.134 menjadi Rp1.664 per dolar AS.

Kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk mendukung perekonomian dan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia.
 

Faktor Penyebab Devaluasi

 

1. Memperbaiki Neraca Dagang

Devaluasi dapat dilakukan untuk memperbaiki neraca dagang ketika nilai impor lebih besar daripada nilai ekspor.

Dengan menurunkan nilai mata uang, harga produk ekspor menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga lebih mudah bersaing dan diharapkan dapat meningkatkan ekspor.

2. Pengangguran

Tingginya angka pengangguran juga dapat menjadi alasan bagi pemerintah untuk melakukan devaluasi. Dengan meningkatnya ekspor, perusahaan dapat memperbesar produksi dan membuka lebih banyak lapangan kerja.

Jika berhasil, pendapatan masyarakat akan meningkat dan pertumbuhan ekonomi ikut terdorong.

 

Dampak Diberlakukannya Devaluasi

1. Berkurangnya Jumlah Barang Impor

Devaluasi adalah kebijakan yang membuat nilai mata uang suatu negara melemah terhadap mata uang asing.

Dampaknya, harga barang impor menjadi lebih mahal sehingga jumlah impornya cenderung berkurang. Kondisi ini juga dapat mendorong masyarakat untuk lebih memilih dan menggunakan produk lokal.

2. Kenaikan Jumlah Barang Ekspor

Devaluasi juga dapat meningkatkan volume ekspor. Hal ini karena harga produk dalam negeri menjadi lebih murah bagi pembeli di luar negeri, sehingga permintaan berpotensi meningkat.

Jika ekspor bertambah, pendapatan negara dari perdagangan internasional juga ikut meningkat.

3. Produk Lokal Bisa Bersaing di Luar Negeri

Devaluasi membuat produk lokal lebih mampu bersaing di pasar internasional karena harganya menjadi lebih terjangkau bagi pembeli dari luar negeri.

Kondisi ini dapat meningkatkan ekspor sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar. Selain itu, masyarakat di dalam negeri juga cenderung lebih memilih produk lokal karena barang impor menjadi lebih mahal.

4. Adanya Perubahan Metode Produksi

Salah satu dampak devaluasi adalah mendorong perusahaan untuk meningkatkan atau menyesuaikan proses produksinya agar mampu memenuhi permintaan yang lebih tinggi.

Ketika produksi bertambah, perusahaan biasanya membutuhkan lebih banyak tenaga kerja sehingga dapat membantu mengurangi angka pengangguran.

5. Terjadinya Keseimbangan pada Neraca Pembayaran

Devaluasi dapat membantu menyeimbangkan neraca pembayaran. Ketika nilai mata uang turun, ekspor cenderung meningkat dan impor berkurang. Kondisi ini dapat membantu mengurangi defisit serta membuat neraca pembayaran lebih seimbang.sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: