Mengenal Markup dan Faktor yang Mempengaruhinya

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Minggu, 24 Mei 2026 | 07:32 WIB
Ilustrasi (BeritaNasional/Freepik)
Ilustrasi (BeritaNasional/Freepik)

BeritaNasional.com -  Markup merupakan salah satu konsep yang sering digunakan dapat penetapan harga jual. Bila ingin mendapatkan keuntungan yang maksimal, menentukan harga jual tidak bisa sembarangan.

Terdapat beberapa faktor yang perlu dipikirkan secara matang dalam penetapan markup, mulai dari biaya produksi, kondisi pasar, hingga brand positioning.

Aspek ini menjadi salah satu konsep pricing strategy yang krusial. Bukan sekadar angka tambahan, markup menjadi kunci agar bisnis tetap bisa bersaing di pasar.

Simak penjelasannya berikut ini dilansir dari laman Pegadaian.

 

Apa Itu Markup?

Markup adalah persentase atau nilai tambahan yang diberikan pada harga pokok suatu produk untuk menentukan harga jual.

Dengan kata lain, markup merupakan selisih antara biaya produksi atau harga beli dengan harga jual yang ditetapkan kepada konsumen.

Konsep ini digunakan untuk memastikan bisnis mendapatkan keuntungan dari setiap produk yang dijual.

Besarnya markup bisa berbeda-beda, tergantung dari jenis bisnis, tingkat persaingan, hingga strategi yang ingin diterapkan, apakah ingin fokus pada volume penjualan atau margin keuntungan yang lebih besar.

Cara Menentukan Markup yang Menguntungkan

Menentukan markup yang menguntungkan tidak bisa dilakukan secara asal. Kamu perlu mempertimbangkan berbagai aspek agar harga yang ditetapkan tidak hanya mampu menutup biaya, tetapi juga memberikan keuntungan yang optimal tanpa mengorbankan daya saing.
 

1. Menentukan Biaya Produksi Secara Akurat

Langkah pertama adalah menghitung seluruh biaya yang dikeluarkan, mulai dari bahan baku, tenaga kerja, hingga biaya operasional. Tanpa perhitungan yang tepat, markup bisa melesat dan justru merugikan bisnismu.

2. Melakukan Riset Harga Pasar

Cek harga yang ditawarkan kompetitor untuk produk serupa. Langkah ini penting agar harga jual produk atau layananmu tetap kompetitif dan tidak terlalu jauh dari ekspektasi pasar.

3. Mempertimbangkan Brand Positioning

Produk premium biasanya memiliki markup lebih tinggi dibanding produk mass market. Jadi, sesuaikan dengan citra brand yang ingin kamu bangun.

4. Menyesuaikan dengan Target Keuntungan

Tentukan berapa margin keuntungan yang ingin dicapai. Dari sini, kamu bisa menetapkan persentase dengan citra brand yang ingin kamu bangung.

5. Uji dan Evaluasi secara Berkala

Markup tidak bersifat statis. Lakukan evaluasi secara rutin berdasarkan penjualan, feedback pelanggan, dan kondisi pasar.
 

Faktor yang Mempengaruhi Markup

Secara umum, beberapa faktor yang dapat memengaruhi nilai markup adalah sebagai berikut:

Biaya produksi: Semakin tinggi biaya produksi, biasanya markup juga perlu disesuaikan agar tetap menghasilkan keuntungan.

Tingkat persaingan pasar: Pasar yang kompetitif cenderung menekan markup agar harga tetap bersaing.

Permintaan konsumen: Produk dengan permintaan tinggi memungkinkan markup lebih besar, terutama jika supply terbatas.

Strategi bisnis: Strategi ini biasanya berkaitan dengan keputusan apakah bisnis kamu ingin fokus pada keuntungan per produk atau volume penjualan. Hal ini sangat memengaruhi markup.

Rumus Markup

Persentase markup umumnya dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Markup (%) = (Harga jual - harga pokok) / Harga pokok x 100%

Dengan rumus ini, kamu bisa mengetahui persentase keuntungan yang diambil dari setiap produk yang dijual.
 

Contoh Perhitungan Markup

Sebagai contoh, kamu menjual produk dengan harga pokok Rp50.000 dan ingin dijual seharga Rp75.000, berapa markup yang diterapkan?

Markup = (75.000 - 50.000) / 50.000 x 100%
Markup = 25.000 / 50.000 x 100%
Markup = 50%

Artinya, kamu mengambil keuntungan sebesar 50% dari harga pokok produk tersebut.

Contoh ini menunjukkan bahwa semakin tinggi selisih antara harga jual dan biaya, semakin besar pula markup yang diperoleh. Namun, tetap penting untuk menyesuaikannya dengan kondisi pasar agar produk tetap laku.sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: