Indonesia Perlu Galang Kekuatan dengan Negara Lain untuk Hadapi Tarif Baru Trump

Oleh: Ahda Bayhaqi
Sabtu, 05 April 2025 | 15:13 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto/X Donald Trump).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto/X Donald Trump).

BeritaNasional.com - Pemerintah Indonesia mengirim delegasi tingkat tinggi ke Washington untuk negosiasi tarif baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga menilai, pemerintah tidak konfrontatif menghadapi tarif baru tersebut.

"Upaya pemerintah tersebut menjadi indikasi Indonesia tidak melakukan konfrontatif terhadap kebijakan AS mengenai tarif resiprokal 32 persen. Indonesia tampaknya menganut pendekatan kompromistis dalam menyelesaikan tarif resiprokal tersebut," katanya kepada wartawan, Sabtu (5/4/2025).

Menurut Jamiluddin, negosiasi tersebut bisa berhasil bila ada kesetaraan. Namun, dalam konteks negosiasi tersebut tidak tampak kesetaraan.

"Dalam konteks negosiasi Indonesia dengan AS terkait tarif resiprokal 32 persen, tampaknya tidak terjadi kesetaraan. AS sebagai pihak yang membuat kebijakan tarif resiprokal 32 persen terlihat merasa superior dan memandang Indonesia inferior," ujarnya.

"Jadi, prasyarat kesetaraan tak terpenuhi bila Indonesia melakukan negosiasi dengan AS. Karena itu, peluang keberhasilan negosiasi kiranya relatif kecil sekali," sambungnya.

Indonesia perlu melawan kebijakan tarif seperti Cina yang membalas menetapkan tarif 34 persen untuk produk AS. Agar AS tidak semena-mena dalam menetapkan tarif perdagangan.

"Upaya melawan kebijakan tarif tersebut diperlukan agar AS tidak semena-mena dalam menetapkan tarif perdagangan. AS bukan lagi penguasa ekonomi dunia. Saat ini ekonomi China justru lebih unggul daripada AS," kata Jamiluddin.

"Karena itu, dunia harus bersatu melawan penetapan tarif resiprokal sepihak yang dilakukan AS. Hanya dengan cara itu AS tahu diri bahwa negaranya bukan lagi super power dalam bidang ekonomi," sambungnya.

Jamiluddin yakin bila semua negara mengikuti langkah Cina, akan membuat ekonomi Amerika Serikat hancur. Karena itu, Indonesia perlu menggalang kekuatan dengan negara-negara terdampak untuk mengikuti kebijakan Cina.

"Dengan cara itu, diharapkan sebagian besar negara di dunia akan melawan proteksi halus AS dalam perdagangan. Karena itu, perang tarif AS perlu dilawan dengan perang tarif juga," katanya.

"Indonesia layak memprakarsai perang tarif tersebut dan mengajak negara lain bersatu melawan AS. Hanya dengan begitu kepongakan AS dapat diturunkan. Tanpa ada perlawanan, AS akan terus semena-semena baik dalam bidang ekonomi maupun politik," tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi mengungkapkan pemerintah mengirimkan tim lobi tingkat tinggi ke Amerika Serikat (AS) untuk merespons tarif baru impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump.

"Pemerintah juga mengirimkan tim lobi tingkat tinggi untuk bernegosiasi dengan pemerintah AS," ujar Hasan dalam keterangan tertulis pada Jumat (4/4/2025).

Diberitakan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan kenaikan tarif sedikitnya 10 persen ke banyak negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, terhadap barang-barang yang masuk ke negara tersebut.

Menurut unggahan Gedung Putih di Instagram, Indonesia berada di urutan ke delapan di daftar negara-negara yang terkena kenaikan tarif AS, dengan besaran 32 persen.

Sekitar 60 negara bakal dikenai tarif timbal balik separuh dari tarif yang mereka berlakukan terhadap AS.

Berdasarkan daftar tersebut, Indonesia bukan negara satu-satunya di kawasan Asia Tenggara yang menjadi korban dagang AS. Ada pula Malaysia, Kamboja, Vietnam serta Thailand dengan masing-masing kenaikan tarif 24 persen, 49 persen, 46 persen dan 36 persen.

Dilansir dari Kyodo, Trump mengatakan, tarif timbal balik itu bertujuan untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja di dalam negeri. Trump menyebut hari pengumuman itu sebagai "Hari Pembebasan" bagi negaranya.

Ia dan para pejabat pemerintahannya berpendapat bahwa Amerika Serikat telah "dirugikan" oleh banyak negara akibat praktik perdagangan yang dianggap tidak adil.

Tarif-tarif yang telah lama diancamkan Trump itu diumumkan dalam acara "Make America Wealthy Again" di Rose Garden, Gedung Putih.sinpo

Editor: Harits Tryan Akhmad
Komentar: