Nvidia Ungkap Pendapatan Tembus Rp 760 Triliun berkat Dominasi AI

Oleh: Tarmizi Hamdi
Jumat, 29 Agustus 2025 | 14:04 WIB
Ilustrasi Cip Nvidia. (Foto/Nvidia.com)
Ilustrasi Cip Nvidia. (Foto/Nvidia.com)

BeritaNasional.com - Raksasa teknologi Nvidia yang kini menjadi perusahaan paling bernilai di dunia kembali menunjukkan performa gemilang.

Dilansir dari TechCrunch pada Jumat (29/8/2025), dalam laporan laba rugi terbarunya, Nvidia mencatatkan pendapatan sebesar USD 46,7 miliar (sekitar Rp 760 triliun). Angka fantastis ini mengalami kenaikan signifikan, yaitu 56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan pendapatan yang tajam ini didorong oleh bisnis pusat data, yang menjadi tulang punggung revolusi kecerdasan buatan (AI). Sektor ini mengalami peningkatan pendapatan tahunan sebesar 56%, membuktikan betapa besarnya permintaan global terhadap unit pemroses grafis (GPU) canggih milik Nvidia.

Selain pendapatan, laba bersih perusahaan juga melonjak drastis. Nvidia mencatatkan laba bersih sebesar USD 26,4 miliar (sekitar Rp 430 triliun) pada kuartal kedua, melambung 59% dari tahun lalu.

Chip Blackwell Jadi Mesin Uang Baru

Nvidia berhasil meraup USD 41,1 miliar dari penjualan pusat data di kuartal ini, menegaskan bahwa permintaan GPU untuk kebutuhan AI terus meningkat. Kontributor utama dari penjualan ini adalah chip generasi terbarunya, Blackwell, yang menyumbang USD 27 miliar.

"Blackwell adalah platform AI yang telah lama dinantikan dunia. Perlombaan AI telah dimulai, dan Blackwell adalah platform di pusatnya," kata CEO Nvidia Jensen Huang dalam pernyataannya.

Huang juga memprediksi bahwa investasi global dalam infrastruktur AI akan mencapai USD 3 hingga USD 4 triliun pada akhir dekade ini, sebuah angka yang menurutnya "sangat masuk akal" untuk lima tahun ke depan.

Kendala Pasar China

Meskipun sukses besar secara global, Nvidia menghadapi tantangan di pasar China. Laporan laba rugi menunjukkan bahwa perusahaan tidak mencatatkan penjualan chip H20 khusus China kepada pelanggan di negara tersebut pada kuartal terakhir. Di sisi lain, chip H20 senilai USD 650 juta berhasil terjual kepada pelanggan di luar Tiongkok.

Menurut CFO Nvidia, Colette Kress, kendala ini disebabkan oleh ketidakpastian seputar kesepakatan ekspor chip dengan China. Meskipun sejumlah pelanggan China telah memperoleh lisensi, pengiriman belum bisa dilakukan karena kesepakatan tersebut belum resmi menjadi peraturan federal.

Situasi makin rumit karena pemerintah China secara resmi telah melarang penggunaan chip Nvidia oleh bisnis lokal, yang kabarnya membuat Nvidia menghentikan produksi chip H20 beberapa waktu lalu.

Ke depan, Nvidia memproyeksikan pendapatan sebesar $54 miliar untuk kuartal ketiga. Perusahaan juga mencatat bahwa perkiraan ini tidak memperhitungkan potensi pengiriman chip H20 ke China, mengindikasikan bahwa masa depan bisnis mereka di sana masih belum pasti.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: