Optimalkan Bonus Demografi, Pemerintah Dorong Perguruan Tinggi Vokasi Libatkan Industri

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 16 November 2025 | 14:00 WIB
Mendiktisaintek Brian Yuliarto dan Wamen Stella Christie. (Foto/Kemendiktisaintek)
Mendiktisaintek Brian Yuliarto dan Wamen Stella Christie. (Foto/Kemendiktisaintek)

BeritaNasional.com - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyatakan komitmen penuhnya untuk merevitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi di tanah air. Hal ini dilakukan guna memastikan lulusan siap kerja dan mampu mengisi kesenjangan tenaga terampil di pasar global.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa politeknik dan perguruan tinggi vokasi harus mengambil peran yang lebih strategis.

"Perguruan tinggi vokasi didorong untuk terlibat langsung di industri sekitarnya, meningkatkan kemungkinan penyerapan tenaga kerja dari lulusan kampus terkait," kata Menteri Brian melalui keterangannya yang dikutip dari Antaranews pada Minggu (16/11/2025).

Menurut Menteri Brian, kampus vokasi harus menjadi pusat pembentukan kompetensi teknis yang benar-benar berbasis pada kebutuhan riil industri saat ini.

Menko PMK: Lima Tahun ke Depan Masa Kritis

Senada dengan Mendiktisaintek, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menekankan bahwa perbaikan ekosistem vokasi adalah upaya yang tidak bisa ditunda. Hal ini sangat krusial mengingat Indonesia sedang berada di periode emas bonus demografi.

"Kita memasuki jendela waktu yang tidak akan datang dua kali. Lima tahun ke depan menentukan apakah bonus demografi benar-benar membawa manfaat. Kuncinya ada pada seberapa cepat kita memperbaiki mismatch antara lulusan vokasi dan kebutuhan industri," ucap Menko PMK Pratikno.

Data nasional menunjukkan adanya kesenjangan yang masih lebar antara suplai lulusan dan permintaan tenaga kerja terampil.

Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) mencatat, masih ada hampir 300 ribu lowongan di sektor-sektor prioritas seperti kesehatan, hospitality (perhotelan), manufaktur, dan teknisi industri yang belum dapat terisi.

Kekosongan ini disebabkan oleh keterampilan dan sertifikasi lulusan yang belum setara dengan standar internasional.

Pemerintah memandang periode 2025–2030 sebagai masa kritis untuk memaksimalkan potensi bonus demografi ini.

Kerja Sama Internasional dan Program Percontohan

Untuk mengatasi masalah ini, Kemdiktisaintek telah mengambil langkah proaktif dengan mengadakan pertemuan kerja sama dengan Australia. Hasilnya, muncul potensi program percontohan mobilitas bagi mahasiswa vokasi tingkat akhir.

Program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan mahasiswa, mencakup penguatan bahasa asing, pengenalan budaya kerja internasional, dan sertifikasi keahlian yang diakui secara global.

Program percontohan awal akan difokuskan pada tiga jalur yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global yang sedang berkembang: tenaga pengajar Bahasa Indonesia, caregiver (perawat/pengasuh), dan tenaga konstruksi.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: