Soal Tawaran Final untuk Rusia-Ukraina, Trump: Kami Ingin Capai Perdamaian

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 23 November 2025 | 23:00 WIB
Presiden AS Donald Trump (Foto/doc. setpres)
Presiden AS Donald Trump (Foto/doc. setpres)

BeritaNasional.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump angkat bicara mengenai rencana perdamaian 28 poin yang diajukan untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina. 

Trump menegaskan bahwa proposal tersebut bukanlah tawaran final setelah munculnya kekhawatiran serius dari Kyiv dan para sekutunya.

Rancangan perdamaian tersebut dilaporkan mencakup poin-poin kontroversial, seperti menuntut Ukraina menyerahkan wilayah tambahan kepada Rusia, membatasi ukuran militernya, dan secara resmi membatalkan upaya untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Trump menyatakan bahwa tujuannya adalah segera mengakhiri konflik yang berlangsung sejak Februari 2022.

“Kami ingin mencapai perdamaian. Perang ini seharusnya sudah berakhir sejak lama. Perang Ukraina dengan Rusia seharusnya tidak pernah terjadi,” ujar Trump yang dikutip dari Antaranews pada Minggu (23/11/2025)

“Kami berupaya mengakhirinya. Bagaimanapun caranya, kita harus mengakhirinya,” katanya.

Trump menambahkan, jika Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menolak rencana tersebut, ia dapat "terus berperang sekuat tenaga."

Zelenskyy Menghadapi Pilihan Sulit

Sebelumnya, Trump telah memberikan tenggat waktu hingga Kamis bagi Zelenskyy untuk memberikan respons terhadap rancangan perdamaian tersebut.

Menanggapi proposal yang syaratnya cukup berat, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan ia menghadapi pilihan yang sangat sulit.

"kehilangan martabat kami atau risiko kehilangan mitra utama,” kata Zelenskyy.

Kekhawatiran terhadap proposal Trump juga disuarakan oleh sekutu internasional. Pada hari Sabtu, para pemimpin dari sembilan negara Eropa, ditambah Jepang, Kanada, serta pejabat tinggi Uni Eropa, menyampaikan keberatan atas klausul pembatasan angkatan bersenjata Ukraina. 

Mereka memperingatkan bahwa pembatasan tersebut "akan membuat Ukraina rentan terhadap serangan di masa depan."

Rusia sendiri memulai "operasi militer khusus" pada Februari 2022 dengan dalih "denazifikasi" dan demiliterisasi Ukraina. 

Selain pembatasan militer dan larangan bergabung NATO, Moskow juga menuntut pengakuan bahasa Rusia sebagai bahasa resmi di Ukraina.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: