Prancis Beri Lisensi Produksi Rudal dan Bom ke Ukraina

Oleh: Kiswondari
Rabu, 15 Juli 2026 | 17:29 WIB
Ilustrasi uji coba rudal (Foto/Pixabay)
Ilustrasi uji coba rudal (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa negaranya akan memberikan lisensi kepada Ukraina untuk produksi rudal dan bom di wilayahnya. 

Melansir Russia Today (RT) pada Rabu (15/7/2026), hal ini disampaikan Macron di KTT 'Coalition of the Willing' atau 'Koalisi Sukarelawan' di Paris. Dengan perjanjian tersebut, Ukraina dapat memproduksi rudal pencegat Aster 30, bom luncur AASM, dan rudal jelajah SCALP-EG berdasarkan lisensi.

“Kami telah menyepakati perjanjian lisensi untuk kemampuan baru,” katanya kepada wartawan, menambahkan bahwa langkah ini “akan memungkinkan kami untuk menghasilkan kemampuan ini jauh lebih cepat dengan mitra Ukraina kami dan di tanah Ukraina”.

Sementara itu, menurut Moskow, AASM dan SCALP-EG telah dipasok ke Kiev dan telah digunakan secara luas oleh pasukan Ukraina, termasuk dalam serangan terhadap target sipil Rusia .

Macron juga mengatakan, baterai pertahanan udara SAMP/T buatan Prancis-Italia dan pesawat pencegat Aster tambahan akan dikirim ke Ukraina dalam beberapa minggu mendatang. Dan 16 jet tempur Rafale diperkirakan akan tiba pada tahun 2028-2029.

Sebagai informasi, 'Koalisi Sukarelawan' adalah kelompok negara-negara yang dipimpin oleh Prancis dan Inggris yang mendorong jaminan keamanan bagi Kiev, termasuk pengerahan pasukan di Ukraina jika terjadi gencatan senjata. Rusia pun telah berulang kali memperingatkan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir kelompok ini.

Kemudian, sembilan negara peserta juga meluncurkan Koalisi Rudal Anti-Balistik yang bertujuan membangun jaringan pertahanan udara terpadu Eropa menggunakan kapasitas industri bersama, di tengah kekurangan rudal pencegat Patriot buatan AS akibat konflik Ukraina dan Iran.

Di sisi lain, Kremlin telah berulang kali mengecam koalisi tersebut sebagai “sekelompok negara yang tidak menginginkan perdamaian [dan] ingin perang berlanjut”.

“Ini adalah koalisi orang-orang yang tertipu dan koalisi para penghasut perang,” kata juru bicara kepresidenan Dmitry Peskov pada Senin.

Pada bulan lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova mengatakan, negara-negara anggota NATO mengubah Ukraina menjadi "medan uji coba" untuk teknologi militer Barat.

Beberapa negara Uni Eropa juga mulai memindahkan sebagian produksi militer mereka ke Ukraina setelah Kementerian Pertahanan Rusia menerbitkan lokasi perusahaan-perusahaan Eropa yang memproduksi komponen drone untuk Kiev. Pada Maret 2026, Moskow pun memperingatkan bahwa para pemimpin Eropa "menyeret negara mereka ke dalam perang dengan Rusia".

Sumber: Russia Todaysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: