Jalur Transportasi Tarutung–Sibolga Belum Pulih, Kepala BNPB Sebut Banyak Pengendara Terjebak
BeritaNasional.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan jalur transportasi dari Tarutung, Tapanuli Utara, menuju Sibolga belum sepenuhnya pulih akibat banjir dan longsor di Sumatera Utara (Sumut).
Hal tersebut dikatakannya saat konferensi pers update penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) pada Minggu (30/11/2025).
Suharyanto mengakui proses normalisasi jalur Tarutung–Sibolga merupakan pekerjaan yang sangat berat. Hingga hari ini, tim gabungan baru berhasil menembus sekitar 40 kilometer dari titik awal longsor dengan menggunakan alat berat.
"Untuk Tarutung–Sibolga masih proses normalisasi, memang berat sekali. Yang sudah bisa ditembus alat berat per hari ini 40 km dari titik semula longsor sampai ke titik sekarang berhasil ditembus 40 km," paparnya.
Meskipun demikian, sisa jalur yang belum pulih masih cukup panjang. Ia memperkirakan bahwa jalur tersebut belum bisa ditembus sepenuhnya pada Senin (1/12/2025), bahkan untuk mencapai Kecamatan Adian Koting, Tapanuli Utara.
"Kami minta data terakhir memang tinggal 1 kecamatan, setelah itu tembus ke Tapanuli Tengah, ini pun masih memerlukan waktu, besok juga belum bisa tembus, sampai dengan kecamatan Adian Koting, Tapanuli Utara," jelasnya.
Akibat terputusnya akses ini, Kepala BNPB melaporkan bahwa banyak masyarakat yang semula melakukan perjalanan menuju Sibolga atau Tapanuli Tengah kini terjebak di sepanjang rute tersebut. Kendaraan mereka ditinggalkan di pinggir jalan sementara pemiliknya mengungsi di area sekitar.
"Di jalur transportasi ini, masih banyak masyarakat yang tadinya perjalanan ke Sibolga, ke Tapanuli Tengah terjebak di situ. Kendaraan banyak di pinggir jalan," kata Suharyanto.
Masyarakat yang terjebak enggan mundur dan memilih menunggu Satgas Gabungan berhasil menembus dan membuka kembali jalur Tarutung ke Sibolga/Tapanuli Tengah.
Bantuan Logistik Lewat Udara dan Ransel
Untuk mengatasi kondisi masyarakat yang terjebak dan terisolasi, penyaluran logistik dilakukan melalui dua cara:
Pengiriman Udara (Air Drop): Logistik didistribusikan dari udara dengan cara dijatuhkan karena kondisi medan yang tidak memungkinkan pendaratan helikopter.
Jalur Darat (Jalan Kaki): Dari arah Tarutung, Tapanuli Utara, personel TNI-Polri bergerak secara berjalan kaki. Mereka membawa logistik terbatas dalam ransel, dengan beban maksimal sekitar 25 kg per orang, untuk membantu sekitar 50 hingga 100 orang masyarakat yang terjebak di rute tersebut.
Upaya normalisasi dan penyaluran bantuan terus dilakukan secara intensif oleh Satgas Gabungan TNI-Polri dan BNPB di lokasi bencana.
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu







