Dana Rehabilitasi Terlalu Kecil, DPR Semprot Menhut

Oleh: Ahda Bayhaqi
Kamis, 04 Desember 2025 | 18:11 WIB
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat rapat kerja dengan Komisi IV DPR. (Foto/Tv Parlemen)
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat rapat kerja dengan Komisi IV DPR. (Foto/Tv Parlemen)

BeritaNasional.com -  Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman mencecar Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menyiapkan dana rehabilitasi hanya Rp 62.500 per hektare untuk wilayah Sumatera pascabencana. Padahal, banyak masalah pembabatan hutan, pembalakan liar, sampai tambang ilegal yang menghancurkan wilayah hutan.

Alex menilai dana rehabilitasi yang disiapkan oleh Kementerian Kehutanan terlalu kecil.

"Ini yang disampaikan baru soal pembabatan hutan, pembalakan liar. Ini baru secuil pak. Bapak tidak pastikan data tambang illegal yang menghancurkan hutan sedemikian parahnya. Ayo dong buka. Itu di sepanjang DAS adalah tambang illegal gak bakal punya izin. Dan itu kawasan hutan. Skrg klau bicara dana rehabilitasi bapak cuma Rp62.500 per hektare apa yang mau direhabilitasi pak?" ujarnya saat rapat kerja dengan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/12/2025).

Alex mendorong Kementerian Kehutanan fokus melakukan rehabilitasi hutan pascabencana. Jangan hanya infrastruktur saja.

"Sekarang masa tanggap darurat setelah itu masuk ke rehabilitasi dan rekon saya harapkan pak menteri dan pak wamen, hutan ini juga harus direhabilitasi, jangan sampai infrastruktur yang rusak direhabilitasi direkonstruksi tapi hulu bencana tidak diselesaikan," ujarnya.

Alex meminta Kementerian Kehutanan menyiapkan mitigasi apabila siklon tropis kembali terjadi. Jangan sampai kembali bencana besar akibat kerusakan lingkungan.

"Berapapun mahalnya rehabilitasi ini itu juga tidak bisa mengganti nyawa saudara kita tidak bisa mengobati penderitaan saudara kita di Aceh Sumbar dan Sumut. Jangan lagi bicara anggaran. Untuk satu nyawa tidak bisa kita nilai apalagi dengan banyaknya yang sekarang. Jadi at all cost," pungkasnya.sinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: