Legislator Bicara Pentingnya Pemulihan Layanan Kesehatan Pascabanjir Aceh

Oleh: Ahda Bayhaqi
Rabu, 10 Desember 2025 | 11:00 WIB
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher. (Foto/Dok Netty)
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher. (Foto/Dok Netty)

BeritaNasional.com - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher mengapresiasi upaya pemerintah memprioritaskan perbaikan fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Aceh pascabanjir. Langkah tersebut dinilai penting dan tepat karena rumah sakit menjadi bagian krusial penanganan korban bencana.

"Rumah sakit adalah lini terdepan penyelamatan warga pada fase tanggap darurat. Pemulihan fasilitas dan layanan menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat terdampak banjir tetap mendapatkan hak atas kesehatan," ujar Netty, Rabu (10/12/2025).

Menurut Netty, langkah pemerintah menambah dukungan tenaga medis, termasuk dokter dan tenaga kesehatan sementara di lokasi terdampak sebagai bentuk respon cepat memastikan keberlanjutan kesehatan.

"Penempatan tenaga medis tambahan dapat membantu mempercepat penanganan pasien, terutama ketika kapasitas tenaga kesehatan lokal terbatas. Ini langkah yang patut diapresiasi," jelasnya.

Namun, menurut Netty, proses pemulihan pascabencana tidak boleh sekedar memperbaiki kerusakan yang terjadi, tetapi juga memastikan sistem layanan kesehatan di wilayah terdampak lebih siap terhadap risiko bencana di masa mendatang.

"Pemulihan pascabencana harus memberikan ruang untuk meningkatkan standar kesiapsiagaan. Fasilitas kesehatan di daerah rawan bencana perlu memiliki mekanisme darurat, jalur layanan cadangan, serta protokol evakuasi yang jelas," tegasnya.

Netty mendorong agar Kementerian Kesehatan bekerja sinergis dengan pemerintah daerah, BNPB, Dinas Kesehatan, dan rumah sakit setempat dalam memastikan pemulihan berjalan menyeluruh dan tidak menghambat akses kesehatan warga.

"Kolaborasi lintas institusi sangat diperlukan agar aspek logistik kesehatan, sarana sanitasi, obat-obatan, hingga layanan kesehatan dasar tidak terputus," katanya.

 sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: