Ketegangan Meningkat, Israel Kembali Masuk Wilayah Suriah Selatan

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 22 Desember 2025 | 11:49 WIB
Ilustrasi kawasan pedesaan Quneitra, Suriah. (Foto/ist)
Ilustrasi kawasan pedesaan Quneitra, Suriah. (Foto/ist)

BeritaNasional.com -  Pasukan militer Israel kembali melakukan operasi darat di wilayah selatan Suriah. Media lokal melaporkan, serangan terbaru terjadi pada Minggu (21/12/2025) di kawasan pedesaan Quneitra, dinilai sebagai pelanggaran baru terhadap kedaulatan Suriah.

Menurut laporan Syrian Arab News Agency (SANA), Senin (22/12/2025) sebuah patroli Israel yang terdiri dari dua kendaraan militer memasuki wilayah tersebut melalui area Adnaniyah di Quneitra utara. Pasukan itu kemudian mendirikan pos pemeriksaan militer di antara desa Rwihinah dan Mushayrifah.

Sementara itu, unit Israel lainnya dilaporkan bergerak ke kota al-Rafid di Quneitra selatan dan melepaskan tembakan ke udara secara acak. Tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden tersebut.

Selain itu, patroli lain yang melibatkan lima kendaraan militer dilaporkan melakukan penggerebekan di desa Saida al-Hanout, yang juga berada di wilayah pedesaan Quneitra selatan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Israel Defense Forces maupun otoritas Suriah terkait laporan media tersebut.

Data yang dihimpun mencatat, rangkaian operasi terbaru ini menambah jumlah serangan darat Israel di Suriah selatan menjadi 42 kali sejak awal Desember.

Sebagian besar operasi tersebut menyasar wilayah Quneitra bagian tengah dan utara, dengan aktivitas meliputi pendirian pos militer, pembangunan tanggul tanah, penebangan ribuan pohon buah, serta perusakan lahan pertanian dan sumur air.

Serangan juga dilaporkan menjangkau lereng Mount Hermon dan sekitar kota Beit Jinn. Di kawasan dataran tinggi itu, Israel disebut berupaya membangun titik pengawasan teknis yang menghadap langsung ke wilayah Suriah.

Berdasarkan data pemerintah Suriah, sejak Desember 2024 Israel telah melancarkan lebih dari 1.000 serangan udara ke wilayah Suriah, serta melakukan lebih dari 400 operasi lintas batas di provinsi-provinsi selatan.

Ketegangan semakin meningkat setelah runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada akhir 2024. Pasca peristiwa tersebut, Israel memperluas kontrolnya di wilayah Golan Heights dengan mengambil alih zona penyangga demiliterisasi, langkah yang dinilai melanggar perjanjian tahun 1974 antara Suriah dan Israel.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: