Tren Kejahatan Siber 2025: Ritel Online Paling Rentan Diserang
BeritaNasional.com - Tahun 2025 menegaskan bahwa pencurian data kini bisa terjadi melalui aktivitas yang tampak sepele, seperti memesan pizza secara online.
Kebiasaan berbelanja dan memesan makanan lewat aplikasi seluler memang sudah menjadi rutinitas, namun faktanya, mengunduh aplikasi dari toko resmi sekalipun tidak lagi menjamin keamanan data pribadi maupun kredensial keuangan pengguna.
Ancaman siber di sektor ritel dan e-commerce juga meningkat signifikan. Deteksi ransomware di segmen B2B melonjak tajam, dipicu dominasi satu aktor utama. Jumlah pengguna unik yang terdampak ransomware di sektor ritel dan e-commerce naik 152 persen pada 2025 dibandingkan 2023.
Lonjakan terbesar terjadi pada periode 2024–2025, seiring masifnya penyebaran Trojan-Ransom.Win32.Dcryptor, varian ransomware yang memanfaatkan utilitas sah DiskCryptor untuk mengenkripsi partisi disk korban.
Di sisi lain, aktivitas phishing masih menjadi ancaman paling menonjol. Sepanjang November 2024 hingga Oktober 2025, produk Kaspersky memblokir lebih dari 6,6 juta upaya akses ke tautan phishing yang menargetkan pengguna toko online, sistem pembayaran, dan layanan pengiriman.
Dari total tersebut, lebih dari separuh menyasar pembeli online, disusul tiruan sistem pembayaran dan layanan logistik.
Musim promosi dan puncak belanja online terus menjadi momentum empuk bagi pelaku kejahatan siber. Lonjakan kampanye diskon kerap menurunkan kewaspadaan pengguna, membuat skema phishing dan spam lebih mudah menyaru di tengah arus pemasaran yang sah.
Memasuki 2026, lanskap ancaman diprediksi kian kompleks. Chatbot diperkirakan menjadi alat utama pencarian produk di platform e-commerce. Perubahan pola pencarian ini berpotensi memperluas risiko privasi karena interaksi percakapan mendorong pengguna membagikan data yang lebih detail.
"Pola pencarian itu sendiri sedang berubah, termasuk bagaimana orang mencari produk secara online. Pada tahun 2025, terjadi pergeseran bertahap dari kata kunci sederhana ke cara yang lebih personal seperti percakapan dan visual untuk menemukan apa yang akan dibeli," kata Anna Larkina, pakar analisis data web dan privasi di Kaspersky, dikutip dalam keterangannya, Senin (22/12/2025).
"Karena model-model ini bergantung pada masukan pengguna yang lebih luas, penanganan data yang cermat akan tetap menjadi pertimbangan penting untuk menjaga kepercayaan pengguna," ucapnya lebih lanjut.
Selain itu, perubahan kebijakan pajak dan perdagangan lintas negara berpotensi dimanfaatkan sebagai umpan penipuan digital. Klaim diskon ekstrem atau penghematan biaya sering digunakan untuk menarik korban, terutama pelaku usaha kecil dan menengah.
Asisten belanja berbasis AI juga diprediksi makin beroperasi di luar platform ritel, menyatu dengan browser dan aplikasi pihak ketiga. Meski memudahkan pengguna, teknologi ini membawa risiko privasi baru karena pengumpulan data dilakukan di luar kendali langsung platform dan konsumen.
Fitur pencarian produk berbasis gambar turut menjadi tantangan baru. Unggahan foto pengguna berpotensi memuat data sensitif, mulai dari wajah hingga informasi pribadi yang tak disadari.
Karena itu, pemrosesan aman dan pembatasan data menjadi keharusan bagi pelaku industri.
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu







