Insiden Pengibaran Bendera GAM, Komisi I Tekankan Persatuan dan Kemanusiaan
BeritaNasional.com - Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menyayangkan insiden di Aceh akibat pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dave memahami penyuaraan aspirasi masyarakat agar penanganan bencana di Aceh mendapatkan perhatian lebih, tetapi semua pihak harus menahan diri agar tidak terjadi gesekan.
"Sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI, saya menghimbau masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dengan cara yang damai dan sesuai aturan, serta mengajak aparat keamanan tetap mengedepankan sikap profesional dan humanis dalam menjalankan tugas. Jangan sampai perbedaan ekspresi di lapangan mengaburkan tujuan utama kita, yaitu memastikan keselamatan warga dan kelancaran distribusi bantuan," ujar Dave dikutip dalam keterangannya, Sabtu (27/12/2025).
Belajar dari insiden ini, komunikasi yang baik dan sikap saling menghormati diperlukan agar terhindar dari konflik. Untuk itu pemerintah pusat dan daerah harus memperkuat koordinasi.
"Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah perlu memperkuat koordinasi agar aspirasi masyarakat tersampaikan dengan jelas tanpa menimbulkan ketegangan," ujar Dave.
Politikus Golkar ini yakin jika mengedepankan kebersamaan dan saling menahan diri, masa sulit bisa dilewati. Dave meminta penanganan bencana jadi prioritas utama, segala perbedaan pandangan politik seharusnya disalurkan melalui mekanisme yang tepat.
"Mari kita jadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga untuk menjaga persatuan, mengedepankan kemanusiaan, dan memperkuat kepercayaan antara masyarakat dan aparat," pungkasnya.
Diberitakan, belakangan ini media sosial tengah diramaikan video merekam kejadian aksi prajurit TNI yang tengah membubarkan konvoi masyarakat dengan membawa bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di wilayah Aceh.
Kapuspen Mabes TNI, Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah menyayangkan adanya video dengan narasi konten yang tidak benar. Seolah-olah sengaja dibuat untuk mendiskreditkan institusi TNI.
“Informasi tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan dan berpotensi menyesatkan publik,” kata Freddy saat dihubungi, Jumat (26/12/2025).
Adapun kejadian yang sebenarnya, bermula pada 25 Desember 2025 pagi, berlanjut sampai 26 Desember 2025 dini hari di Kota Lhokseumawe. Saat itu, sekelompok massa tengah konvoi dan melaksanakan demo yang sebagian mengibarkan bendera bulan bintang identik dengan simbol GAM.
“Disertai teriakan yang berpotensi memancing reaksi publik serta mengganggu ketertiban umum, khususnya di tengah upaya pemulihan Aceh pascabencana,” ungkap Freddy.
Karena potensi terjadinya ketertiban umum, petugas di lokasi dipimpin Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran segera berkoordinasi dengan Polres Lhokseumawe untuk mendatangi lokasi.
“Aparat TNI–Polri mengutamakan langkah persuasif dengan menghimbau agar aksi dihentikan dan bendera diserahkan. Namun karena imbauan tersebut tidak diindahkan, aparat melakukan pembubaran secara terukur dengan mengamankan bendera guna mencegah eskalasi situasi,” terangnya.
Namun saat proses mediasi ternyata terjadi cekcok petugas dengan satu orang dari kelompok massa yang ternyata memegang senjata api (senpi) jenis Colt M1911 beserta amunisi, magazen, dan senjata tajam.
“Yang bersangkutan kemudian diamankan dan diserahkan kepada pihak Kepolisian untuk diproses sesuai hukum yang berlaku,” jelasnya.
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu






