Pengibaran Bendera GAM Dinilai Gejala Sosial, TB Hasanuddin Dorong Pendekatan Persuasif

Oleh: Ahda Bayhaqi
Sabtu, 27 Desember 2025 | 09:46 WIB
Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)
Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)

BeritaNasional.com - Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin menilai, masalah pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh harus dipahami sebagai gejala sosial. Sehingga perlu pendekatan yang bijak, tenang dan proporsional. Masalah tersebut tidak boleh diselesaikan dengan pendekatan kekerasan, apalagi menggunakan senjata.

Hasanuddin mengingatkan, sejarah panjang konflik di Aceh. Maka perlu mengedepankan prinsip perdamaian dan stabilitas sosial.

"Pengibaran bendera GAM ini merupakan gejala sosial. Kita berharap penyelesaiannya tidak dilakukan dengan kekerasan, apalagi menggunakan senjata. Pendekatan yang tepat adalah dialog dan langkah persuasif dengan sebaik-baiknya," ujarnya dikutip Sabtu (27/12/2025).

Pemerintah dan para pemangku kepentingan diminta fokus upaya rehabilitasi dan pemulihan korban bencana yang dihadapi masyarakat Aceh. Solidaritas dan kepedulian kemanusiaan harus menjadi prioritas utama dibanding kepentingan lain.

"Fokus kita sekarang seharusnya lebih kepada rehabilitasi dan pemulihan korban bencana. Masyarakat membutuhkan kehadiran negara untuk membantu mereka bangkit, bukan suasana yang justru berpotensi memicu ketegangan," ujar Hasanuddin.

Politikus PDIP ini juga mengajak seluruh elemen masyarakat menahan diri dan tidak terpancing provokasi yang bisa memperkeruh suasana. Hasanuddin menekankan pentingnya menjaga perdamaian Aceh yang telah dibangun melalui proses panjang dan pengorbanan besar.

"Perdamaian adalah aset yang sangat berharga. Mari kita jaga bersama dengan mengedepankan dialog, kemanusiaan, dan kepentingan rakyat Aceh," pungkasnya.

Diberitakan, belakangan ini media sosial tengah diramaikan video merekam kejadian aksi prajurit TNI yang tengah membubarkan konvoi masyarakat dengan membawa bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di wilayah Aceh.

Kapuspen Mabes TNI, Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah menyayangkan adanya video dengan narasi konten yang tidak benar. Seolah-olah sengaja dibuat untuk mendiskreditkan institusi TNI.

“Informasi tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan dan berpotensi menyesatkan publik,” kata Freddy saat dihubungi, Jumat (26/12/2025).

Adapun kejadian yang sebenarnya, bermula pada 25 Desember 2025 pagi, berlanjut sampai 26 Desember 2025 dini hari di Kota Lhokseumawe. Saat itu, sekelompok massa tengah konvoi dan melaksanakan demo yang sebagian mengibarkan bendera bulan bintang identik dengan simbol GAM.

“Disertai teriakan yang berpotensi memancing reaksi publik serta mengganggu ketertiban umum, khususnya di tengah upaya pemulihan Aceh pascabencana,” ungkap Freddy.

Karena potensi terjadinya ketertiban umum, petugas di lokasi dipimpin Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran segera berkoordinasi dengan Polres Lhokseumawe untuk mendatangi lokasi.

“Aparat TNI–Polri mengutamakan langkah persuasif dengan menghimbau agar aksi dihentikan dan bendera diserahkan. Namun karena imbauan tersebut tidak diindahkan, aparat melakukan pembubaran secara terukur dengan mengamankan bendera guna mencegah eskalasi situasi,” terangnya.

Namun saat proses mediasi ternyata terjadi cekcok petugas dengan satu orang dari kelompok massa yang ternyata memegang senjata api (senpi) jenis Colt M1911 beserta amunisi, magazen, dan senjata tajam.

“Yang bersangkutan kemudian diamankan dan diserahkan kepada pihak Kepolisian untuk diproses sesuai hukum yang berlaku,” jelasnya.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: