Penjelasan Super Flu, Kelompok Rentan hingga Cara Pencegahannya
BeritaNasional.com - Kemunculan istilah super flu dan temuan beberapa kasus di Indonesia menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Apalagi, penyakit ini juga dilaporkan telah menyebar secara global. Meskipun disebut 'super flu', virus ini faktanya masih berasal dari keluarga influenza yang telah puluhan tahun lalu dikenal, tetapi dengan karakteristik varian baru yang perlu diwaspadai.
Berdasarkan penjelasan Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dr. Farindira Vesti Rahmasari, istilah super flu merujuk pada varian baru virus influenza yang pertama kali teridentifikasi di Amerika Serikat (AS). Varian ini dilaporkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada Agustus 2025 dan sejak itu menyebar ke berbagai negara.
“Super flu ini sebenarnya merupakan varian lain dari virus influenza yang sudah lama kita kenal. Virus ini termasuk influenza tipe A dengan subtipe H3N2, tetapi yang membedakan adalah munculnya subklade baru, yakni K, yang sebelumnya belum banyak ditemukan,” kata dr. Farindira di UMY, yang dikutip melalui laman resmi UMY, Rabu (13/1/2026).
Meskipun Kementerian Kesehatan telah melaporkan temuan kasus super flu sebanyak 62 kasus hingga Desember 2025, jumlah tersebut belum menunjukkan lonjakan signifikan seperti yang terjadi di sejumlah negara lain.
Farindira menerangkan, kemunculan varian baru influenza ini merupakan proses alamiah akibat mutasi virus. Mutasi tersebut dapat terjadi melalui perubahan genetik kecil yang dikenal sebagai antigenic drift, maupun melalui pertukaran materi genetik antarvirus yang berasal dari manusia dan hewan.
“Selain faktor mutasi, kondisi pascapandemi COVID-19 juga berkontribusi terhadap meningkatnya penyebaran influenza. Selama pandemi, paparan virus influenza relatif menurun. Setelah pembatasan dicabut, virus ini kembali menyebar lebih luas dan cepat,” jelasnya.
Menurut Farindira, secara klinis, super flu menunjukkan gejala yang mirip dengan influenza pada umumnya, tetapi dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Pasien dapat mengalami demam tinggi, nyeri otot hebat, kelelahan ekstrem, serta durasi sakit yang lebih panjang dibandingkan flu biasa.
“Gejalanya hampir sama, tetapi cenderung lebih berat. Demam bisa tinggi, nyeri otot lebih terasa, tubuh sangat lemas, dan masa pemulihan bisa berlangsung lebih dari dua minggu. Risiko komplikasinya juga lebih besar,” ungkapnya.
Ia pun menyampaikan bahwa kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, ginjal, dan gangguan paru-paru memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi berat akibat infeksi ini.
Oleh karena itu, Farindira menekankan pentingnya vaksinasi influenza untuk menurunkan risiko sakit berat dan komplikasi sebagai langkah pencegahan. Selain itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat tetap menjadi kunci utama.
“Gunakan masker saat sakit, terapkan etika batuk dan bersin, rajin mencuci tangan, istirahat yang cukup, serta jaga daya tahan tubuh. Kebiasaan ini penting untuk mencegah penularan dan melindungi kelompok rentan,” pesan Farindira.

TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu







