Dobrak Batas Pengetahuan, ChatGPT Mampu Pecahkan Soal Matematika Tingkat Tinggi
BeritaNasional.com - Dunia matematika baru saja diguncang oleh penemuan mengejutkan. Neel Somani, seorang insinyur perangkat lunak dan pendiri startup, berhasil membuktikan bahwa kecerdasan buatan (AI) kini bukan sekadar alat bantu tik, melainkan rekan berpikir yang mampu memecahkan soal matematika tingkat tinggi yang selama ini dianggap mustahil.
Fenomena ini bermula saat Somani menguji model terbaru OpenAI, GPT 5.2. Setelah diberikan sebuah soal matematika terbuka, ia membiarkan AI tersebut berpikir selama 15 menit.
Hasilnya, ChatGPT memberikan solusi lengkap yang divalidasi kebenarannya dengan menggunakan alat formalisasi bernama Harmonic.
Yang membuat para ahli terkesima bukanlah sekadar jawaban akhirnya, melainkan alur pemikirannya.
ChatGPT mampu merangkai aksioma rumit seperti rumus Legendre hingga teorema Bintang Daud untuk membangun argumen.
Hebatnya lagi, AI ini berhasil memberikan solusi yang lebih lengkap untuk masalah yang diajukan oleh matematikawan Paul Erdos.
Masalah-masalah Erdos dikenal sebagai medan tempur bagi para pemikir jenius karena tingkat kesulitannya yang luar biasa.
Sejak libur Natal 2025, sebanyak 15 masalah dalam daftar Erdos yang sebelumnya berstatus belum terpecahkan kini telah resmi pindah ke status terselesaikan.
Menariknya, 11 dari solusi tersebut secara spesifik menyebutkan keterlibatan model AI dalam proses penemuannya.
Bahkan, matematikawan peraih Fields Medal, Terence Tao, turut memberikan perhatian. Melalui laman GitHub dan Mastodon miliknya, Tao mencatat bahwa sistem AI sangat cocok untuk menangani masalah-masalah di daftar Erdos yang kurang dikenal, namun membutuhkan ketelitian sistematis.
“Banyak dari masalah Erds yang lebih mudah ini sekarang lebih mungkin diselesaikan dengan metode berbasis AI murni daripada dengan cara manusia,” tulis Tao yang dikutip Beritanasional.com pada Kamis (15/1/2026).
Peralihan status AI dari sekadar chatbot menjadi asisten pembuktian diperkuat oleh munculnya alat-alat seperti Aristotle dari Harmonic dan asisten pembuktian Lean.
Alat-alat ini membantu melakukan formalisasi, sebuah proses melelahkan untuk memverifikasi logika matematika agar tidak ada celah kesalahan.
Tudor Achim, pendiri Harmonic, menekankan poin pentingnya bukan hanya pada jumlah soal yang terpecahkan, melainkan pada siapa yang menggunakan teknologi ini.
“Para profesor matematika dan ilmu komputer mulai menggunakan alat-alat ini secara serius. Mereka memiliki reputasi besar yang harus dijaga, jadi ketika mereka mengakui menggunakan ChatGPT atau Aristotle, itu adalah bukti nyata bahwa AI telah mencapai level baru,” tandas Achim.
Sumber: TechCrunch

TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu
EKBIS | 20 jam yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







