Tottenham Hotspur Terpuruk, Thomas Frank Ungkit Proses
BeritaNasional.com - Pelatih Tottenham Hotspur, Thomas Frank, menegaskan bahwa perubahan budaya di dalam skuad The Lilywhites tetap berjalan, meski rentetan hasil buruk terus menekan tim.
Frank menilai ada perkembangan kecil namun penting yang mulai terlihat, terutama dalam cara para pemain merespons situasi sulit di lapangan.
Tottenham baru saja tersingkir dari FA Cup usai kalah 1-2 dari Aston Villa akhir pekan lalu. Kekalahan tersebut memicu kekecewaan suporter, bahkan sebagian pendukung yang hadir di stadion terdengar melontarkan siulan tidak puas. Situasi itu semakin memperbesar sorotan terhadap posisi Frank, yang kini berada dalam tekanan besar.
Laga Liga Inggris melawan West Ham United pada Sabtu mendatang disebut-sebut bisa menjadi penentu masa depan Frank di Tottenham. Hasil negatif berpotensi membuat posisinya kian goyah, mengingat Spurs saat ini masih terjebak di papan bawah klasemen.
Meski demikian, Frank tetap menunjukkan sikap tenang. Dalam sesi konferensi pers jelang laga, pelatih asal Denmark itu mengaku memahami betul dinamika dunia sepak bola profesional. Namun, ia merasa belum saatnya menarik kesimpulan pesimistis.
“Saya sangat paham bagaimana sepak bola bekerja. Saya tahu hasil yang kami dapatkan belum cukup baik,” ujar Frank, dalam keterangannya, dikutip dari Spurs, Jumat (16/1/2026).
“Tapi saya melihat langkah-langkah kecil yang terus kami buat. Dalam enam pertandingan terakhir, performa kami lebih konsisten dan positif, meski belum sempurna,” lanjutnya.
Frank menyoroti respons tim di babak kedua saat menghadapi Bournemouth dan Aston Villa. Menurutnya, dalam situasi di mana tim lain mudah runtuh, para pemain Tottenham justru menunjukkan kebersamaan dan semangat untuk bangkit.
“Mereka tetap bersama, berusaha menambah tekanan. Itu tanda budaya tim mulai menguat. Ada mental ‘ayo kita lakukan apa pun untuk membalikkan keadaan’. Dalam sepak bola, momentum bisa berubah dengan cepat,” katanya.
Namun, optimisme Frank tak sepenuhnya sejalan dengan pandangan sebagian suporter. Tottenham kini berada di peringkat 14 Premier League, posisi yang membuat klaim soal kemajuan internal sulit diterima publik.
Padahal, Frank sebelumnya dikenal sebagai sosok yang sukses membangun lingkungan positif saat menukangi Brentford. Ia dipuji karena mampu menciptakan suasana kondusif yang membuat pemain baru cepat beradaptasi, meski klub terus mengalami perubahan.
Kondisi tersebut belum sepenuhnya terulang di Tottenham. Beberapa rekrutan anyar justru kesulitan menemukan performa terbaik.
Xavi Simons, misalnya, belum konsisten menunjukkan kreativitas yang membuatnya sempat disebut sebagai salah satu talenta paling menjanjikan di Eropa.
Di sisi lain, muncul pula indikasi ketegangan internal. Bek tengah Cristian Romero sempat melontarkan sindiran di media sosial yang diduga ditujukan kepada pihak klub. Selain itu, beredar kabar hubungan Frank dengan sejumlah pemain, termasuk Yves Bissouma, tidak berada dalam kondisi ideal.
Rekor Tottenham dalam 17 laga terakhir di semua kompetisi pun menambah kecemasan: sembilan kali kalah, empat imbang, dan hanya empat kemenangan. Tak sedikit pendukung yang mulai pasrah menghadapi kemungkinan musim yang kembali mengecewakan.
Meski begitu, ada secercah harapan dari perubahan di balik layar. Fabio Paratici dipastikan akan meninggalkan jabatannya sebagai direktur olahraga pada akhir jendela transfer Januari. Kepergiannya disambut positif oleh banyak pihak, mengingat kiprahnya dinilai kurang memuaskan.
Selain itu, Tottenham juga merekrut Johnny Heitinga, mantan asisten pelatih Liverpool, untuk bergabung dalam staf kepelatihan Frank.
Heitinga sebelumnya mendapat pujian dari Arne Slot atas perannya dalam mengelola sesi latihan sepanjang musim 2024–2025.
Kehadiran Heitinga diharapkan bisa membawa sentuhan baru, terutama dalam meningkatkan aliran serangan di sepertiga akhir lapangan. Jika pendekatannya mampu mengoptimalkan pemain seperti Simons, bukan tidak mungkin Tottenham perlahan memperbaiki posisi mereka di klasemen.
Bagi Thomas Frank, waktu dan konsistensi menjadi kunci. Namun di klub sebesar Tottenham, kesabaran sering kali menjadi barang langka.
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu







