Meski 3 Tahun Terakhir Tidak Ada Serangan Teroris, Paham Radikal Sasar Anak Indonesia

Oleh: Ahda Bayhaqi
Senin, 26 Januari 2026 | 13:21 WIB
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (tengah) dalam Raker Komisi III DPR. (BeritaNasional/YouTube DPR)
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (tengah) dalam Raker Komisi III DPR. (BeritaNasional/YouTube DPR)

BeritaNasional.com - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengklaim Indonesia berhasil mempertahankan kondisi zero attack atau tidak ada serangan terorisme dalam tiga tahun terakhir sejak 2023 sampai 2025. Menurutnya, kondisi ini menjadi catatan krusial karena Indonesia masih berada dalam kategori medium impact berdasarkan indeks ancaman terorisme global.

"Walaupun Indonesia berada dalam kategori medium impact, kita berhasil mempertahankan zero attack dari 2023 sampai dengan 2025," ujarnya saat rapat kerja dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026).

Menurutnya, keberhasilan tersebut berkat dua strategi utama, yakni, pendekatan lunak dan pendekatan keras.

Dengan pendekatan lunak, Polri memperkuat peran keluarga dan tokoh agama untuk mencegah dari penyebaran paham radikal.

Sementara, dengan pendekatan keras, Polri mengambil langkah mitigasi mulai dari peringatan dini, pemutusan pendanaan logistik, sampai tindakan tegas berupa preventive strike.

Namun, Listyo menjelaskan ada catatan khusus mengenai pergeseran pola penyebaran paham radikal yang menyasar anak di bawah umur melalui ruang digital.

Polri melakukan penanganan terhadap 70 anak di bawah umur di 19 Provinsi yang terpapar paham Neo Nazi dan White Supremacy melalui aktivitas daring.

"Polri berhasil mengungkap kasus terorisme dgn 5 tersangka yang merekrut 110 anak secara daring. Korban berusia 10-18 tahun dan berasal dari 26 provinsi," jelas Listyo.

Polri juga memperkuat kerja sama lintas sektoral dengan pemangku kepentingan dalam negeri dan kepolisian di berbagai negara.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: