Tekan Laju Penurunan Muka Tanah PAM Jaya Kebut Pembanguan Jaringan Pipa
BeritaNasional.com - Percepatan pembangunan jaringan perpipaan dilakukan perusahaan Umum Daerah Air Minum Jaya (PAM Jaya). Hal ini bertujuan menekan laju penurunan muka tanah Jakarta.
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan, percepatan menjadi krusial karena ketergantungan Jakarta masih mengandalkan bahkan ketergantungan pada air tanah masih. Kondisi ini menjadi faktor utama penurunan muka tanah di ibu kota.
“Setiap tahun Jakarta turun sekitar 12 sentimeter,” katanya
Arief dalam diskusi panel acara ESG Sustainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/1/2026) juga menyampaikan pembangunan jaringan perpipaan dilakukan secara masif dengan panjang pipa yang dibangun mencapai sekitar 1.000 kilometer per tahun untuk memperluas akses layanan air perpipaan kepada masyarakat.
Menurut dia sampai target cakupan layanan tercapai, Jakarta masih membutuhkan tambahan jaringan pipa sekitar 4.000 kilometer agar seluruh wilayah dapat terlayani air perpipaan.
“Saat ini cakupan pipanisasi Jakarta sekitar 80 persen, dan kami targetkan 100 persen pada 2029"
Sikatp ketergantungan masyarakat Jakarta terhadap air tanah harus segera disudahi karena berdampak langsung pada penurunan muka tanah dan meningkatkan risiko banjir, kerusakan infrastruktur, serta kerugian ekonomi jangka panjang.
Menururnya lagi jika ketergantungan pada air tanah tidak segera dikurangi, dampak yang ditimbulkan tidak hanya bersifat lingkungan, tetapi juga sosial dan ekonomi.
“Kalau pipanisasi tidak dipercepat, dampaknya bukan hanya lingkungan, tetapi juga kehidupan manusia dan ekonomi ke depan,” ucapnya.
Secara nasional, rata-rata cakupan layanan air perpipaan masih berada di kisaran 20 persen, sehingga Jakarta relatif lebih maju namun tetap menghadapi tantangan besar dalam menuntaskan pipanisasi.
Percepatan pembangunan infrastruktur air bersih juga sejalan dengan penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) karena berkontribusi langsung pada keberlanjutan lingkungan dan perlindungan masyarakat.
Ia menilai pengurangan eksploitasi air tanah melalui perluasan pipanisasi menjadi bagian penting dari strategi adaptasi perubahan iklim dan pengendalian risiko lingkungan di wilayah perkotaan padat penduduk. (Antara)

EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 18 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 22 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu





