Bahlil Tegaskan Tak Ada Politik Warisan di Golkar, Kedepankan Meritokrasi

Oleh: Bachtiarudin Alam
Jumat, 06 Februari 2026 | 20:22 WIB
Ketum Golkar Bahlil Lahadalia saat memberikan keterangan pers setelah Rapimnas Golkar. (BeritaNasional/Bachtiarudin Alam))
Ketum Golkar Bahlil Lahadalia saat memberikan keterangan pers setelah Rapimnas Golkar. (BeritaNasional/Bachtiarudin Alam))

BeritaNasional.com - Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menegaskan sikap partainya akan selalu memegang prinsip meritokrasi sebagai dasar utama dalam penempatan kader. Sebab, tidak ada ruang politik warisan di tubuh partai berlogo beringin tersebut.

Penegasan itu disampaikan Bahlil saat sambutan dalam acara Training of Trainers Sosialisasi 4 Pilar MPR di Kantor DPP Golkar, Jakarta Barat pada Jumat (6/2/2026).

“Enggak bisa lagi kita berpikir karena dia anak ini, dia anak teman saya, dia sahabat saya, udah lah. Bahkan, mungkin dalam rolling-rolling fraksi, bagi yang tidak perform, sekalipun dia teman kita, Pak Sarmuji, ya sudah kita harus cari pemain pengganti. Karena di Golkar ini, semua striker,” katanya saat berpidato.

Bahkan, Bahlil menyatakan sikap itu juga berlaku bagi dirinya yang menjabat Menteri Ekonomi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sebab, tidak ada jabatan yang harus dipertahankan bila tidak berkinerja baik.

"Hidup itu harus fair. Maunya bertahan terus, tapi satu saat kalau yang menilai kita udah enggak, ya sudah siap, dengan gentle gitu loh. Kita kan diajarkan jadi pemimpin itu begitu. Makanya, meritokrasi dipakai. Belajar dipakai,” terang Bahlil.

Namun jika hasil kerjanya baik, Bahlil mengatakan dirinya akan selalu siap menjalankan tugas.

“Saya pun kalau tidak perform, bisa dievaluasi oleh Presiden. Tapi selama perform, sorry ye. Kan begitu," ujar dia.

Di samping itu, Bahlil mencontohkan kader Golkar seperti striker sepak bola yang siap mencetak gol. Jadi, pergantian pemain adalah hal biasa demi mencapai tujuan.

“Ini seperti main futsal, tidak mesti habis pertandingan baru ganti pemain. Tiga menit, capek, keluar, baru masuk. Tujuannya kan golnya. Jadi jangan juga dianggap jabatan ini seperti warisan. Enggak boleh,” imbuhnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: