Ibaratkan Iron Dome, Arhanud 21 Jadi Jantung Terakhir Pertahanan Udara Yogyakarta
BeritaNasional.com - Pertahanan udara menjadi faktor penting sebuah kedaulatan negara, contoh paling familiar adalah Iron Dome (Kubah Besi) milik Israel. Jika ditarik ke İndonesia peran itu merupakan bagian dari TNI Angkatan Udara (AU) melalui Koprspasgat.
Beritanasional.com berkesempatan untuk melihat lebih dekat kemampuan pertahanan udara milik Koprspasgat yang dioperasikan oleh Arhanud 21 sebagai jantung pertahanan objek vital di wilayah Yogyakarta.
“Kami merupakan satuan pertahanan udara titik untuk bertugas menjaga objek vital TNI Angkatan Udara dari ancaman udara,” kata Danyon Arhanud 21 Pasgat, Letkol Pas Yosef Y. Abidondifu kepada wartawan, Rabu (11/2/2026).
Menjadi bagian dari Batalyon 1, Arhanud 21 bertugas untuk mengatasi segala ancaman udara mulai dari pesawat tempur asing, UAV (pesawat drone), sampai helikopter dari musuh yang masuk ke wilayah udara yurisdiksi nasional.
Pengamanan Arhanud 21 ini juga terintegrasi dengan Satradar 215/Congot TNI AU di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Jangkaran, Temon, Kulon Progo dan satuan Satuan Radar 402/Cibalimbing di Sukabumi, Jawa Barat.
Setiap langkah yang diambil dalam rangka pengamanan wilayah udara dari Arhanud 21, juga telah terhubung dengan Koopsudnas (Komando Operasi Udara Nasional) dan Kosek (Komando Sektor) sebagai Sistem Pertahanan Udara Nasional (Sishanudnas) Indonesia.
“Dengan informasi tersebut kami siap untuk menggelar, baik di gelar satuan Smart Hunter kami yaitu Alutsista kami baik di Lanud Adisutjipto. Kemudian saat ini yang kami cover juga yaitu di radar Congot maupun di Bandara Yogyakarta Internasional,” terangnya.
“Itu yang kami gelar ketika ada informasi terkait dengan ada lassa-x yaitu lassa yang mungkin kita anggap sebagai musuh. Kami akan menggelar dengan kemampuan yang kami miliki dengan senjata Smart Hunter maupun rudal yang kami miliki yaitu rudal QW-3,” sambung dia.
Perisai Tak Terlihat
Perwira Seksi Operasi (Pasi Ops) Arhanud 21 Pasgat, Kapten Tarju secara mudah menggambarkan seluruh kerja Arhanud 21 layaknya Irone Dome. Karena udara wilayah Yogyakarta telah tercover dengan seluruh radar Sishanudnas.
“Kalau di Israel kan ada Iron Dome, itu kan pertahanan udara. Nah contohnya seperti itu. Supaya nanti setiap ada serangan rudal atau mungkin serangan pesawat musuh, setidaknya sudah di-backup,” ujar Tarju.
Meski, Tarju mengakui kalau pertahanan udara yang dimiliki Arhanud masih dioperasikan secara manual. Namun, semua kesiapan personel yang terlatih tidak kalah dengan kemampuan Iron Dome milik Israel yang dijalankan otomatis.
“Ya Iron Dome-nya Jogja lah ibaratnya. Nah, jadi kalau seandainya kalau yang di Israel, Iron Dome-nya kan secara otomatis. Ada ancaman dari luar, langsung ada warning atau instrumen itu langsung dia otomatis. Ya otomatis, karena sistemnya otomatis. Sekarang kan kita masih manual,” jelasnya.
Bermodal Radar Smart Hunter tipe S311 buatan Cina yang dipasang ke kendaraan taktis. Alat itu akan saling terhubung sebagai mata bagi senjata Alutsista utama Arhanud 21 adalah Meriam Oerlikon Skyshield buatan Swiss dan Rudal QW-3 dalam menentukan target.
Senjata ini memiliki jangkauan efektif hingga sekitar enam kilometer untuk sasaran udara jarak dekat, dengan sistem pencari panas (infrared). Di mana, setiap kali diuji dalam sesi simulasi selalu berhasil melumpuhkan sasaran.
“Selama ini memang belum pernah digunakan dalam operasi perang. Tapi saat latihan, semua sasaran bisa kena,” ujarnya.
Jaga Titik vital
Semua alutsista ini difungsikan buka sekedar menjaga pangkalan Udara Adisutjipto. Sama seperti konsep Iron Dome, tugas Arhanud 21 juga menjagai beberapa objek vital lainnya di wilayah Yogyakarta.
Seperti Gedung Agung sebagai simbol kepresidenan di Yogyakarta, YIA di Kulon Progo, instalasi Pertamina, hingga fasilitas PLN masuk dalam daftar pengamanan.
“Kalau seandainya Pertamina dihancurkan, kendaraan enggak bisa beroperasional. Termasuk PLN, itu juga rawan. Kalau seandainya nanti PLN dihancurkan musuh, otomatis secara ekonomi di sini akan lumpuh. Jadi kita mempertahankan itu supaya tetap stabilitas nasional tetap jalan,” jelas dia.
Kendati demikian, 259 Personel Arhanud 21 mungkin tak pernah berharap meriam dan rudalnya digunakan dalam situasi nyata. Meski kesiapan pengamanan adalah harga mati, demi menjaga langit sebagai denyut kota, dari bandara, istana, hingga aliran listrik dan bahan bakar.
“Karena serangan kita dari udara. Kita mempertahankan serangan udara. Nanti kalau ada musuh dari darat, ya berarti nanti di-cover dari batalyon-batalyon yang Infanteri. Jadi kan dia pasukan darat,” tukasnya.

HUKUM | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 21 jam yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu







