Qorina Buktikan Perempuan Bisa Duduk di Kokpit Pesawat TNI AU

Oleh: Bachtiarudin Alam
Jumat, 13 Februari 2026 | 14:00 WIB
Letnan Dua (Letda) Tek, Qorina. (Foto/istimewa)
Letnan Dua (Letda) Tek, Qorina. (Foto/istimewa)

BeritaNasional.com - Dibalut kerudung dengan kombinasi baju jumpsuit orange, kehadiran sosok Letnan Dua (Letda) Tek, Qorina diantara perwira pertama pria berhasil menjadi warna untuk Wing Pendidikan 100/Terbang Yogyakarta.

Kehadirannya sebagai calon penerbang pesawat TNI Angkatan Udara (AU) menyimpan motivasi mendalam tentang perjuangan gender dalam bersaing menduduki kursi kokpit pilot.

“Kami termotivasi bahwa tidak hanya laki-laki yang bisa menerbangkan pesawat. Perempuan juga bisa untuk menerbangkan pesawat apabila dilatih dengan baik dan benar,” kata Qorina saat ditemui di Skadik 101 Lanud Adisucipto ,Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Jumat (13/2/2026).

Sebagai wanita bersama rekannya Letda Demi Salma di angkatan 106 yang sedang menjalani pendidikan navigasi jarak sedang. Tak ada jalan pintas dalam mencapai mimpinya untuk menjadi penerbang TNI AU. 

Kedua srikandi itu, tetap diperlakukan sama seperti prajurit pria yang sejak awal dilakukan seleksi hingga nantinya lulus menjadi penerbang. Jalannya tidaklah mudah, diawali tes kesehatan, jasmani, akademisi, sampai psikotes. 

Jika lulus, siswa Sekolah Penerbang (Sekbang) melanjutkan tes tahap dua aptitude test. Semua tahapan itu untuk melihat bakat calon penerbang yang nantinya bakal digembleng pada tahap bina kelas selama tiga bulan.

“Setelah itu (bina kelas) kami melaksanakan simulator, simulator Grob. Setelah lulus tes tertulis dan tes praktiknya, kokpit drill dan lain-lain, kami melanjutkan bina terbang,” terangnya.

Walaupun Qorina menyadari sebagai wanita tidaklah mudah untuk hidup di lingkungan pria. Karena banyak hal yang perlu menjadi adaptasi dalam menyesuaikan proses pendidikan demi menggapai mimpinya sebagai penerbang pesawat angkut.

“Awalnya kami bisa atau tidak ya, ternyata begitu dijalani kami bisa menyesuaikan dengan laki-laki. Tanpa adanya diskriminasi atau hal-hal yang bikin orang berpikir itu bisa kok dijalani di sini,” ucapnya.

“Justru kami sebagai perempuan termotivasi. Kami juga harus bisa nih seperti laki-laki, bukan malah mengecilkan diri kami. Hal-hal yang awalnya menjadi hambatan, justru bisa diputarbalikkan menjadi motivasi untuk menjalani kehidupan di Wingdik 100 Terbang,” tambah dia.

Selain motivasi, Qorina juga menyimpan sebuah semangat yang telah tertanam sejak dini dibawa ibunya sebagai Wanita Angkatan Udara (Wara). Dia sangat ingin untuk bisa melebihi apa yang dicapai sang ibu, salah satunya menjadi penerbang.

“Jadi sebagai seorang anak, tentunya ingin mencapai sesuatu yang lebih dari orang tua kami. Kami diarahkan di Akademi Angkatan Udara (AAU) ini juga untuk menjadi seorang penerbang. Dan penerbang di TNI AU saat ini di Indonesia juga jumlahnya masih terbatas,” imbuhnya.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: