Kebijakan Prabowo Bikin Ekspor Pangan Naik Rp158,38 Triliun, Impor Turun Rp34 Triliun

Oleh: Lydia Fransisca
Sabtu, 14 Februari 2026 | 13:44 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Indonesia Economic Outlook di Jakarta. (Foto/BPMI)
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Indonesia Economic Outlook di Jakarta. (Foto/BPMI)

BeritaNasional.com - Kebijakan deregulasi dan penambahan anggaran sektor pertanian yang diterapkan Presiden Prabowo Subianto mendorong kinerja perdagangan pangan nasional.

Hal ini ditandai dengan kenaikan nilai ekspor pertanian sebesar Rp158,38 triliun dan penurunan impor pangan Rp34,08 triliun sepanjang Januari–Oktober 2025.

Capaian tersebut disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman dalam acara Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat (13/2/2025).

Menurut Amran, peningkatan kinerja perdagangan ini merupakan dampak langsung dari kebijakan deregulasi yang memangkas aturan distribusi pupuk subsidi sehingga produksi pangan nasional meningkat signifikan.

"Karena kebijakan tadi deregulasi yang dikeluarkan Bapak Presiden, ekspor (pertanian) kita naik jadi Rp158 triliun. Tetapi impor kita turun Rp34 triliun," kata Amran, dikutip dari keterangan resminya, Sabtu (14/2/2026).

Amran menjelaskan, nilai ekspor pertanian Indonesia pada periode Januari-Oktober 2025 mencapai Rp629,76 triliun atau meningkat 33,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Sementara itu, impor pangan tercatat sebesar Rp321,14 triliun, turun 9,49 persen dari Rp 355,22 triliun pada Januari-Oktober 2024.

Amran berujar, salah satu kebijakan utama Prabowo adalah pemangkasan regulasi distribusi pupuk subsidi.

Dari sebelumnya 145 regulasi yang memerlukan tanda tangan 12 menteri, 38 gubernur, serta 514 bupati dan wali kota, kini distribusi pupuk hanya membutuhkan persetujuan Menteri Pertanian, Pupuk Indonesia Holding Company, dan gabungan kelompok tani (gapoktan).

Penyederhanaan tersebut membuat pupuk subsidi dapat diterima petani tepat waktu pada masa tanam sehingga produksi pangan nasional meningkat dan kesejahteraan petani terdongkrak.

Kondisi itu juga membuat Indonesia tidak lagi mengimpor beras dan jagung untuk pakan ternak.

"(Impor) jagung pakan ini nol, tidak ada impor tahun 2025. Indonesia juga menurunkan harga beras dunia karena dulunya impor 7 juta ton, kurang lebih Rp100 triliun," ucap Amran.

Selain memperkuat ketahanan pangan, kebijakan tersebut berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani. Amran menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) saat ini berada pada level tertinggi.

"NTP (Nilai Tukar Petani) naik ke 125. Stok (beras) kita tertinggi sepanjang sejarah 4 juta," tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: