Program MBG Dongkrak Penjualan Sepeda Motor Sampai 4,9 Juta Unit pada 2025

Oleh: Lydia Fransisca
Sabtu, 14 Februari 2026 | 15:41 WIB
Kepala BGN Dadan Hindayana dalam diskusi di Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026). (BeritaNasional/YT Danantara)
Kepala BGN Dadan Hindayana dalam diskusi di Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026). (BeritaNasional/YT Danantara)

BeritaNasional.com - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhasil mendorong peningkatan penjualan sepeda motor hingga 4,9 juta unit sepanjang 2025. Dampak ekonomi tersebut disampaikannya dalam acara Indonesia Economic Outlook yang digelar di Jakarta, Jumat (13/2/2026) kemarin.

Dadan menjelaskan, lonjakan penjualan kendaraan bermotor itu berkorelasi dengan bertumbuhnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah sebagai pelaksana program MBG. 

Menurutnya, peningkatan daya beli pegawai SPPG menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penjualan sepeda motor.

"Ternyata program MBG tidak hanya menyasar produk-produk pertanian untuk menjadi bahan baku, tapi juga berdampak terhadap ekonomi lain," kata Dadan, dikutip dari keterangan resminya pada Sabtu (14/2/2026).

Berdasarkan data dari salah satu agen tunggal pemegang merek, lanjut Dadan, penjualan sepeda motor pada 2025 mencapai jutaan unit dan didorong oleh kebutuhan mobilitas para pegawai SPPG.

"Ternyata dari data AHM, kita melihat angka penjualan motor mencapai 4,9 juta tahun 2025, dan ini terdongkrak oleh program MBG," ujar Dadan.

 "Kenapa? Karena saya dapat laporan di SPPG itu, pegawainya sekarang 60 persen beli motor," tambah dia.

Dadan mencontohkan, dalam satu SPPG dengan 50 pegawai, sekitar 30 orang membeli sepeda motor. 

"Jadi kalau ada 50 orang, kali 60 persen artinya 30 orang beli motor sehingga (penjualan) motornya naik," paparnya.

Selain sepeda motor, dampak program MBG juga dirasakan pada penjualan kendaraan roda empat. Dadan menyebut kebutuhan operasional SPPG ikut mendorong permintaan mobil di pasar.

"Kemudian juga berdampak terhadap salah satu merek mobil yang sedang beredar di masyarakat dan itu populer, yang selama ini mungkin tidak laku, karena satu WPBG butuh dua mobil, kalau sekarang sudah ada 23.000 SPPG, itu artinya dibutuhkan 46.000 mobil jenis itu, dan sekarang termasuk mobil yang sulit dicari," ucap Dadan.

Dadan menambahkan, dampak berantai program MBG juga dirasakan di sektor pertanian, pangan, dan peternakan. Petani hidroponik mengalami peningkatan omzet, produsen tahu kembali menggeliat, hingga peternak susu memperluas produksi untuk memenuhi kebutuhan SPPG.

"Petani hidroponik senang, karena naik omsetnya 100 persen. Ada pengusaha tahu yang sudah hampir bangkrut, sekarang bangkit kembali," ujarnya.

Sementara itu, di sektor peternakan, peningkatan kebutuhan susu mendorong pembangunan fasilitas produksi dan penyimpanan.

"Ada juga sekarang pabrik-pabrik susu atau peternak susu di Boyolali, di Bandung, sudah membuat susu pasteurisasi, dan juga mereka sudah membuat satu cold storage yang bisa memasok kebutuhan susu, dimana satu SPPG setiap hari butuh 450 liter susu," tandasnya.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: