AS-Israel Tingkatkan Tekanan ke Iran, Ekspor Minyak ke China Jadi Target

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 16 Februari 2026 | 21:05 WIB
Konflik AS dan Iran. (BeritaNasional/Gemini AI-Kiswondari)
Konflik AS dan Iran. (BeritaNasional/Gemini AI-Kiswondari)

BeritaNasional.com -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan sepakat meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Salah satu fokus utama adalah membatasi penjualan minyak Iran ke China, yang selama ini menjadi pasar terbesar Teheran.

Laporan media AS Axios pada Sabtu (14/2/2026) menyebut kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan di Gedung Putih, Washington, pertengahan pekan lalu.

"Kami sepakat untuk mengerahkan tekanan maksimal terhadap Iran, misalnya terkait penjualan minyak Iran ke China," kata seorang pejabat senior AS, seperti dikutip portal berita tersebut.

Strategi Tekanan Maksimal ke Iran

Meski sepakat soal tekanan ekonomi, keduanya memiliki pendekatan berbeda. Netanyahu menilai peluang tercapainya kesepakatan baru dengan Iran kecil dan berisiko dilanggar. Sementara itu, Trump disebut masih membuka ruang diplomasi.

"Kita lihat apakah itu memungkinkan mari kita coba," kata pejabat AS itu menirukan perkataan Trump.

Pemerintah AS dikabarkan akan melanjutkan kebijakan “tekanan maksimal” terhadap Iran sambil tetap membuka jalur negosiasi nuklir. Di saat yang sama, Washington juga meningkatkan kehadiran militer di Timur Tengah guna menjaga opsi serangan tetap terbuka jika diplomasi gagal.

China Jadi Kunci Tekanan Ekonomi

Lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran saat ini mengalir ke China. Membatasi pembelian minyak oleh Beijing dinilai dapat memperketat tekanan fiskal terhadap Teheran dan memengaruhi sikapnya dalam isu program nuklir.

Langkah tersebut diperkuat dengan perintah eksekutif terbaru yang diteken Trump. Kebijakan itu memungkinkan AS mengenakan tarif hingga 25 persen kepada negara yang tetap menjalin hubungan dagang dengan Iran.

Jika kebijakan ini diterapkan secara agresif, dampaknya tidak hanya terasa bagi Iran, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan baru dalam dinamika perdagangan global dan geopolitik kawasan.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: