BRIN Soroti Risiko Bioakumulasi Usai Tumpahan Pestisida di Cisadane
BeritaNasional.com - Insiden pencemaran Sungai Cisadane akibat dugaan tumpahan sekitar 2,5 ton pestisida menjadi perhatian serius karena berdampak luas terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Pencemaran dilaporkan meluas hingga radius 22,5 kilometer, mencakup wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, hingga Kota Tangerang Selatan.
Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ignasius D.A. Sutapa menilai insiden ini sebagai krisis ekologis yang memerlukan respons cepat dan terkoordinasi. Menurut Ignasius, Sungai Cisadane merupakan arteri vital yang menyuplai kebutuhan air baku, irigasi, serta menopang ekosistem perairan di kawasan padat penduduk dan industri.
“Selama ini, sungai tersebut memang disinyalir menghadapi persoalan pencemaran kronis dari limbah domestik, industri, dan pertanian. Namun, insiden kali ini bersifat akut karena melibatkan volume besar zat beracun yang masuk secara tiba-tiba ke badan air,” ujar Ignas dikutip dari keterangan resmi BRIN, Selasa (17/2/2026).
Ia menjelaskan, penyebaran pestisida hingga 22,5 kilometer terjadi akibat mekanisme hidrodinamika sungai. Saat beban pencemaran besar masuk secara mendadak, kapasitas alami sungai untuk melakukan dilusi dan asimilasi terlampaui, sehingga kontaminan terbawa arus melalui proses dispersi dan difusi mengikuti debit aliran.
Karakteristik kimia pestisida juga mempercepat penyebaran. Jika zat tersebut memiliki kelarutan tinggi dan relatif stabil di lingkungan perairan, konsentrasinya dapat bertahan cukup lama dan menyebar secara homogen di sepanjang koridor sungai.
“Kondisi ini memungkinkan wilayah hilir, termasuk lokasi pengambilan air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), ikut terdampak,” lanjutnya.
Dari sisi ekologis, dampaknya dinilai sangat serius. Konsentrasi pestisida tinggi dapat menyebabkan kematian massal biota air seperti ikan, zooplankton, dan fitoplankton. Fenomena ikan mati mendadak sering menjadi indikator jelas adanya pencemaran toksik.
Ignas juga menyoroti potensi bioakumulasi dan biomagnifikasi. Residu pestisida dapat terakumulasi dalam jaringan organisme air dan berpindah ke predator tingkat lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tersebut. Risiko ini dinilai berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang.
Kontaminasi disebut juga dapat mencapai sedimen dasar sungai dan menjadi sumber pelepasan racun sekunder dalam waktu lama. Artinya, meskipun air permukaan terlihat kembali jernih, ancaman toksik bisa tetap tersimpan di sedimen dan terlepas kembali dalam kondisi tertentu.
Dari sisi kesehatan publik, paparan pestisida dapat terjadi melalui kontak langsung seperti mandi dan mencuci, maupun tidak langsung melalui konsumsi air baku atau ikan yang tercemar. Ignas menyebut, jenis pestisida tertentu yang bersifat neurotoksik dapat memicu gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf hingga kematian tergantung dosis paparan.
“Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik,” ungkapnya.
Sebagai langkah mitigasi jangka pendek, ia merekomendasikan penutupan sementara intake air baku PDAM di zona terdampak, peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time, serta edukasi cepat kepada masyarakat agar tidak menggunakan air sungai hingga dinyatakan aman. Upaya netralisasi atau remediasi in-situ juga perlu dilakukan apabila sumber pencemaran masih teridentifikasi.
Sebagai lembaga riset nasional, BRIN melalui Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air berperan dalam mengidentifikasi jenis dan konsentrasi pestisida, memodelkan penyebaran kontaminan, serta memberikan rekomendasi teknologi pengolahan air baku bagi PDAM terdampak. Selain itu, BRIN juga dapat mengukur dampak toksikologi pada biota lokal serta memprediksi waktu pemulihan ekosistem.
Ignas menekankan perlunya strategi jangka panjang, mulai dari penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran bahan berbahaya dan beracun (B3), pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air daring, hingga diversifikasi sumber air baku untuk meningkatkan ketahanan saat krisis. Restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian juga dinilai penting untuk memperkuat kapasitas alami sungai dalam menyaring polutan.
Ia juga meminta masyarakat aktif melaporkan hal mencurigakan di sepanjang sungai kepada pihak berwenang demi mencegah kejadian serupa terulang kembali.
“Kepada masyarakat, kami mengimbau agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM. Jangan menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan bahwa air telah aman. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis,” tegas Ignas.
EKBIS | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 20 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 19 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu






