Mengapa Udara Tangerang Selatan Tercemar? Ini Temuan Terbaru BRIN soal PM2.5
BeritaNasional.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah meneliti karakteristik partikulat halus (PM2.5) di Kota Tangerang Selatan sebagai upaya mendukung pengendalian pencemaran udara di kawasan perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi komposisi kimia, sumber pencemar, serta keterkaitannya dengan faktor meteorologi dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Novita Ambarsari, mengatakan penelitian tersebut dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas udara di Tangerang Selatan dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami ingin mengetahui karakter polutannya, termasuk apakah sumber pencemar berasal dari dalam wilayah Tangerang Selatan atau dipengaruhi daerah sekitar,” ujarnyadikutip dari laman resmi BRIN, Kamis (23/7/2026).
Tangerang Selatan dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki mobilitas kendaraan yang tinggi dan merupakan wilayah penyangga Jakarta. Kondisi tersebut membuat wilayah ini berpotensi menerima pencemaran udara, baik yang berasal dari aktivitas lokal maupun polusi lintas wilayah.
Dalam penelitian ini, tim BRIN mengukur konsentrasi PM2.5 bersama sejumlah gas pencemar lainnya, seperti nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), ozon (O₃), dan amonia (NH₃), yang berperan dalam pembentukan partikulat sekunder di atmosfer.
Selain mengukur konsentrasi polutan, BRIN juga menganalisis komposisi kimia PM2.5 menggunakan metode pengambilan sampel berbasis filter dengan MiniVol Air Sampler. Sampel yang diperoleh kemudian dianalisis di laboratorium untuk mengetahui kandungan senyawa organik, ion, logam, hingga morfologi partikel.
“Metode ini memungkinkan sampel PM2.5 dianalisis di laboratorium sehingga tidak hanya mengukur konsentrasi, tetapi juga mengungkap kandungan rinci, seperti senyawa organik, ion, logam, dan morfologi partikel, yang tidak dapat diperoleh dari sensor pemantauan kualitas udara,” jelas Novita.
Penelitian tersebut dilakukan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan melalui penggabungan data pemantauan kualitas udara secara kontinu dan hasil analisis laboratorium BRIN. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai karakteristik pencemaran udara di wilayah tersebut.
Hasil kajian sementara menunjukkan bahwa konsentrasi polutan di kawasan perkotaan dipengaruhi oleh aktivitas transportasi serta kondisi meteorologi, seperti arah dan kecepatan angin maupun curah hujan.
“Di kawasan perkotaan seperti Tangerang Selatan, kepadatan transportasi menjadi sumber emisi utama. Sementara kondisi meteorologi seperti hujan, arah, dan kecepatan angin turut menentukan tinggi rendahnya konsentrasi polutan. Sehingga, keduanya perlu dikaji secara bersamaan,” kata Novita.
BRIN juga mencatat berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara peningkatan aerosol dengan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai karakter pencemar udara beserta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, sekaligus menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengendalian pencemaran udara yang lebih tepat sasaran.
Ke depan, BRIN berencana mengembangkan penelitian mengenai senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) pada PM2.5, air hujan, dan fase gas guna memperkaya data pencemar udara di kawasan Jabodetabek serta mendukung upaya mitigasi pencemaran udara di Indonesia.
Novita menegaskan bahwa pengendalian pencemaran udara memerlukan kolaborasi lintas sektor agar kebijakan yang dihasilkan lebih efektif dan berbasis bukti ilmiah.
“Penelitian kualitas udara tidak cukup hanya mengukur konsentrasi polutan, tetapi juga perlu memahami kandungan kimia, sumber pencemar, dan faktor yang memengaruhinya. Karena itu, kolaborasi lintas instansi diperlukan agar data dan hasil riset saling melengkapi dalam mendukung kebijakan pengelolaan kualitas udara yang lebih efektif,” pungkasnya.
OLAHRAGA | 19 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 22 jam yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 19 jam yang lalu
DUNIA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 23 jam yang lalu
DUNIA | 1 hari yang lalu







