BRIN Ajak Mahasiswa UMTS Lestarikan Bahasa Daerah Melalui Riset

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 15 Juli 2026 | 19:30 WIB
BRIN mengajak mahasiswa UMTS melestarikan bahasa melalui riset. (Foto/doc BRIN)
BRIN mengajak mahasiswa UMTS melestarikan bahasa melalui riset. (Foto/doc BRIN)

BeritaNasional.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS), untuk mengambil peran aktif dalam menjaga kelestarian bahasa daerah melalui jalur penelitian. 

Langkah konkret ini diharapkan dapat menyelamatkan kekayaan budaya nusantara dari ancaman kepunahan.

Ajakan tersebut mengemuka dalam gelar wicara (talkshow) bertajuk “Dokumentasi Bahasa Daerah: Peran Mahasiswa dalam Pelestarian Bahasa” yang digelar di Ruang Seminar UMTS, Jumat (10/7/2026). 

Acara yang dirangkai dengan pelantikan pengurus Ikatan Mahasiswa Bahasa Indonesia (IMABSI) FKIP UMTS ini menghadirkan Taufan Jaya, asisten riset BRIN yang juga penerima beasiswa Degree by Research (DBR) S-3 Linguistik di Universitas Indonesia.

Agenda ini dirancang khusus untuk mengenalkan dunia penelitian kepada mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Indonesia sejak semester awal. Kolaborasi strategis bersama BRIN ini diharapkan mampu memantik minat mahasiswa untuk mendalami bidang riset secara profesional.

Dekan FKIP UMTS Eli Marlina Harahap menyambut baik kehadiran perwakilan BRIN. 

Menurut dia, momentum ini menjadi pintu masuk yang sangat baik bagi mahasiswa untuk memahami tren dan perkembangan terbaru seputar riset kebahasaan di tanah air.

“Kegiatan ini merupakan awal yang sangat baik dan dapat menjadi modal bagi mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang peneliti,” ujar Eli melalui siaran pers resminya yang dikutip pada Rabu (15/7/2026).

Taufan Jaya membagikan pengalaman selama meneliti bersama BRIN sekaligus mengedukasi mahasiswa mengenai empat pilar penting pelindungan bahasa, yaitu pemetaan, pengukuran vitalitas, dokumentasi, hingga program revitalisasi bahasa daerah.

Sebagai contoh nyata, Taufan mengulas tahapan perlindungan yang pernah dilakukannya bersama tim BRIN terhadap bahasa Limola di Desa Sassa, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. 

Ia mendorong mahasiswa UMTS untuk memiliki kepedulian yang sama terhadap bahasa daerah mereka melalui karya ilmiah.

“Awal mulanya saya terlibat sebagai pendamping lapangan penelitian disertasi William McConvell dari Autralia National University (ANU) di desa saya. Setelah itu, saya turut dilibatkan dalam penelitian revitalisasi bahasa Limola dari Badan Bahasa. Pada akhirnya, saya juga mengenal peneliti dari BRIN dan diajak berkolaborasi hingga sekarang hingga menjadi asisten riset di BRIN,” ujar Taufan.

Senada dengan itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia UMTS, Nikmah Sari Hasibuan berharap rekam jejak Taufan mampu memotivasi mahasiswa untuk memperluas cakrawala berpikir di dunia akademik. 

Sinergi dengan BRIN ini diharapkan menjadi pemantik utama lahirnya ekosistem riset yang kuat di lingkungan kampus UMTS.

“Kegiatan ini penting karena berkaitan dengan profil lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, yaitu pendidik pemula, peneliti pemula, dan wirausahawan. 

Oleh karena itu, mahasiswa perlu dibekali dengan pengalaman akademik dan praktis yang dapat mendukung pencapaian kompetensi tersebut,” ungkap Nikmah Sari Hasibuan.

Melalui gelar wicara ini, mahasiswa UMTS tidak sekadar pulang membawa teori baru mengenai pelindungan bahasa. Mereka juga dirangsang untuk berpikir kritis, lebih peka terhadap isu-isu kebahasaan di sekitar, serta mulai melihat peluang karir maupun kewirausahaan berbasis bahasa dan budaya lokal.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: