Nasaruddin Umar Angkat Tema Ramadan Hijau pada Tarawih Perdana, Ini Alasannya
BeritaNasional.com - Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar akan mengangkat tema 'Ramadan Hijau' dalam tarawih perdana Ramadan 2026.
Nasaruddin mengatakan, tema ini diangkat untuk menekankan gagasan eko-teologi sehingga
“Temanya kan ‘Ramadan Hijau’. Ya kenapa ini? Karena ini kita akan pararelkan dengan tema kita di Kementerian Agama bahwa salah satu hal yang kita gagas sekarang ini adalah eko-teologi,” kata Nasaruddin dalam keterangan persnya, Rabu (18/2/2026).
Nasaruddin berujar, tema ini diusung untuk mengembalikan fungsi agama guna melembutkan manusia dan membangun relasi yang harmonis dengan alam semesta.
Pasalnya, eko-teologi merupakan konsep mendasar yang menempatkan ajaran agama sebagai kekuatan yang bersifat lembut, mendidik, dan mengasuh, bukan keras dan penuh dominasi.
“Karena kita sadar bahwa Tuhan itu kan lebih menonjol sebagai feminin God, lebih menonjol sebagai nurture. Nurture itu apa? Lembut, mendidik, mengasuh, membina ya. Nah bukan sebagai Tuhan Mahapendendam, Mahakeras, dan Mahajantan, Mahastruggle,” ujarnya.
Nasaruddin menilai, selama ini praktik keberagamaan masyarakat cenderung terlalu maskulin dan menekankan aspek formalitas serta perjuangan yang keras.
“Padahal tujuan agama sesungguhnya itu melembutkan, mencerahkan. Tetapi masyarakat kita itu identik dengan apa ya, teologi kita itu teologi formalitas ya, teologi formal logic ya, teologi yang lebih menekankan aspek maskulin, teologi yang struggle, menaklukkan, heroik begitu ya,” ucap Nasaruddin.
Ia menegaskan, masjid seharusnya menjadi ruang yang melembutkan hati, jiwa, dan pikiran, sekaligus mengajak umat mencintai alam sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan beragama.
“Masjid itu mestinya harus melembutkan hati, jiwa, dan pikiran seseorang. Nah inilah kita akan kembalikan fungsi agama sesungguhnya adalah bagaimana mengajak masyarakat itu untuk mencintai alam semesta karena tidak mungkin kita bisa menjadi hamba tanpa alam yang sehat,” tegas Nasaruddin.
Menurut dia, alam memiliki hak yang harus dihormati manusia. Jika hak tersebut diabaikan, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri.
“Kalau kita tidak menghargai haknya alam semesta, alam akan marah. Nah apa jadinya kalau alam marah? Ya kan? Ada banjir, ada longsor, ada tsunami, ada macam-macam,” kata Menteri Agama itu.
Karena itu, Nasaruddin menekankan pentingnya membangun persahabatan dengan alam dan tidak semata-mata memposisikannya sebagai objek eksploitasi.
“Jangan hanya menganggap alam ini sebagai objek tetapi itu partner untuk hidup bersama saling menguntungkan dan saling memperkuat satu sama lain,” ujar Nasaruddin.
Ia menyebut, gagasan tersebut sebagai upaya de-maskulinisasi teologi yang sejalan dengan konsep Green Theology atau Teologi Hijau, yang akan menjadi benang merah pesan Ramadan di Masjid Istiqlal tahun ini.
“Nah jadi itu yang dimaksud dengan Green Theology, Teologi Hijau ya. Dan insya Allah kalau ini terwujud itu dahsyat itu,” tandasnya.

TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
DUNIA | 1 hari yang lalu







