5 Penyebab Terjadinya Krisis Ekonomi

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Kamis, 19 Februari 2026 | 07:03 WIB
Ilustrasi krisis ekonomi (BeritaNasional/Freepik)
Ilustrasi krisis ekonomi (BeritaNasional/Freepik)

BeritaNasional.com -  Indonesia pernah melewati situasi krisis ekonomi. Hal itu menjadi sejarah berjalannya republik ini. Namun tahukah kamu apa sih yang menyebabkan suatu negara bisa terjadi krisis ekonomi? Agar semakin memahaminya, mari simak pengertian yang faktor yang membuat terjadinya krisis tersebut. 

Penyebab Krisis Ekonomi

Penyebab krisis ekonomi di suatu negara sangat beragam, seperti fluktuasi nilai tukar, krisis keuangan di negara lain, hingga pengetatan kebijakan moneter global.

Di samping itu, terdapat beberapa hal lainnya yang dapat memunculkan kondisi tersebut, antara lain:

1. Laju Inflasi Tinggi

Salah satu penyebab krisis ekonomi, yaitu laju inflasi yang tinggi. Pada situasi ini, harga barang maupun jasa mengalami lonjakan dalam waktu yang panjang.

Pada dasarnya, inflasi tidak selalu negatif karena bergantung pada tingkat persentasenya. Namun, apabila terjadi berkelanjutan dan lajunya tinggi, maka perlu diwaspadai.

Sebab, bisa membuat pemerintah kehilangan kontrol atas kenaikan harga dan penurunan tajam nilai uang sehingga mengarah pada hiperinflasi. Perekonomian pun semakin memburuk.

2. Pasar Saham Jatuh

Jatuhnya pasar saham dipicu karena investor telah kehilangan kepercayaan di pasar sehingga harga saham pun anjlok secara dramatis. Ini menciptakan efek domino, seperti:

  1. Hilangnya kekayaan investor yang menurunkan konsumsi.
  2. Menyulitkan entitas memperoleh modal.
  3. Memicu ketidakpastian yang menghentikan ekspansi bisnis.


Keadaan tersebut sering kali diikuti oleh pelemahan nilai tukar mata uang, kepanikan perbankan, hingga penurunan daya beli masyarakat.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi melambat secara tajam yang mendorong terjadinya krisis ekonomi di suatu negara/wilayah.

3. Stagflasi

Umumnya, situasi ini dirasakan oleh suatu negara ketika telah mengalami tingkat inflasi tinggi dan perekonomiannya tumbuh secara lambat.

Alhasil, pembuat kebijakan dilema dalam mengambil langkah. Pasalnya, kebijakan yang bertujuan menekan laju inflasi berpotensi meningkatkan angka pengangguran.

Ini justru bisa menambah permasalahan baru, baik secara hukum, sosial, maupun ekonomi. Terlebih, pengaruh stagflasi dapat berlangsung dalam jangka panjang hingga sekian dekade.

4. Utang Negara Berlebihan

Krisis perekonomian juga dapat disebabkan oleh utang negara yang berlebihan. Beban pembayaran pokok dan bunga pinjaman yang terlalu tinggi akan menguras APBN.

Dana untuk sektor produktif, seperti pendidikan dan infrastruktur pun berkurang. Akibatnya, meningkatkan risiko default (gagal bayar).

Melihat keadaan ini, investor cenderung skeptis. Akibatnya, memicu pelarian modal serta inflasi apabila didanai dengan cara mencetak uang.

5. Kondisi Geopolitik Tidak Stabil

Politik yang tidak stabil (perang, konflik, dan perubahan kebijakan negara), baik di dalam negeri maupun tingkat global menyebabkan kegiatan ekonomi terganggu.

Ini menciptakan ketidakpastian pasar yang akhirnya berimbas pada arus perdagangan internasional, investasi, hingga nilai tukar mata uang. Gejolak ekonomi pun terjadi.sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: