Soal Serangan Udara Israel dan AS, Inggris Ungkap Iran Tak Diizinkan Kembangkan Senjata Nuklir

Oleh: Tim Redaksi
Sabtu, 28 Februari 2026 | 23:30 WIB
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. (Foto/X)
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. (Foto/X)

BeritaNasional.com - Pemerintah Inggris memberikan respons cepat menanggapi serangan militer yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). 

Downing Street menegaskan posisinya bahwa Teheran tidak boleh dibiarkan memiliki kemampuan senjata nuklir demi stabilitas global.

Meskipun memberikan dukungan politik terhadap sekutunya, seorang sumber internal pemerintah mengonfirmasi bahwa militer Inggris tidak terlibat langsung dalam operasi serangan tersebut.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dijadwalkan memimpin pertemuan tanggap darurat yang dikenal sebagai pertemuan COBRA pada Sabtu ini. 

Agenda utama pertemuan tersebut adalah membahas eskalasi di Timur Tengah serta memastikan keselamatan warga negara Inggris yang berada di wilayah konflik.

"Prioritas utama kami saat ini adalah keselamatan warga negara Inggris di kawasan tersebut. Kami akan memberikan bantuan konsuler semaksimal mungkin," bunyi pernyataan resmi dari juru bicara pemerintah yang dikutip dari Reuters pada Sabtu.

Pemerintah Inggris kembali mempertegas sikapnya mengenai ambisi nuklir Iran. Inggris memandang kepemilikan senjata nuklir oleh Iran sebagai garis merah yang tidak boleh dilanggar.

"Iran tidak boleh dibiarkan mengembangkan senjata nuklir. Itulah alasan mengapa kami terus mendukung upaya pencapaian solusi melalui jalur negosiasi," tegas juru bicara tersebut.

Kesiagaan Militer dan Larangan Perjalanan

Meski mengutamakan diplomasi, Inggris menyatakan kesiapannya untuk membela kepentingannya dan keamanan para sekutu di Timur Tengah. 

Saat ini, Inggris telah memperkuat berbagai kemampuan pertahanan di kawasan tersebut sebagai langkah antisipasi.

Namun, London juga memberikan catatan bahwa mereka tidak menginginkan adanya eskalasi lebih lanjut yang bisa memicu perang regional yang lebih luas.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: