China Gelar Pertemuan Politik Terbesar di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah
BeritaNasional.com - Di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah, China menggelar pertemuan politik tahunan terbesarnya yang dihadiri ribuan delegasi untuk menetapkan target ekonomi, merumuskan kebijakan, serta menyampaikan sinyal politik kepada dunia internasional.
Dikutip dari NBC News, Kamis (5/3/2026) pertemuan tersebut berlangsung di bawah pengawasan Presiden China Xi Jinping dan menjadi bagian dari agenda tahunan parlemen negara itu. Forum yang direncanakan secara ketat tersebut sebagian besar telah ditentukan sebelumnya, namun tetap memberikan gambaran mengenai cara kerja internal Partai Komunis China yang berkuasa.
Pertemuan ini digelar beberapa pekan sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan berkunjung ke China untuk bertemu Xi guna membahas kelanjutan gencatan senjata perdagangan yang masih rapuh.
Dalam pidato atau “laporan kerja” yang disampaikan di Balai Besar Rakyat di Beijing, Perdana Menteri Li Qiang mengatakan pemerintah sedang meluncurkan kebijakan ekonomi "untuk melawan tarif AS."
Dalam kesempatan itu, Li juga mengumumkan target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China tahun ini sebesar 4,5% hingga 5%. Target tersebut lebih rendah dibandingkan target sekitar 5% pada tahun lalu dan menjadi salah satu target pertumbuhan terendah sejak awal 1990-an.
Li menyatakan pemerintah menetapkan target tersebut "sambil berupaya untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam praktiknya."
Di sisi lain, perang di Iran menciptakan situasi yang rumit bagi Beijing yang memiliki hubungan erat dengan Teheran. China merupakan importir minyak dan gas terbesar di dunia, dengan sekitar sepertiga pasokan minyak mentahnya berasal dari negara-negara Teluk Persia melalui Selat Hormuz.
Selat tersebut dilaporkan hampir sepenuhnya ditutup oleh Iran sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel. China juga diketahui membeli sekitar 80% ekspor minyak mentah Iran, yang setara dengan sekitar 13% dari total impor minyak China. Meski demikian, para analis menilai Beijing telah membangun cadangan energi yang cukup besar untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan atau lonjakan harga dalam jangka pendek.
Iran juga menjadi mitra dekat kedua China yang menjadi sasaran aksi militer Amerika Serikat dalam dua bulan terakhir setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari. Beijing mengkritik serangan terhadap Iran maupun tindakan AS terhadap Venezuela, namun kecil kemungkinan China akan memberikan dukungan lebih dari sekadar pernyataan diplomatik.
Dalam pidatonya, Li mengatakan Xi menghadiri berbagai pertemuan tingkat tinggi guna memperkuat hubungan internasional dalam kerangka "dunia multipolar."
Stabilitas di tengah gejolak global menjadi tema utama kepemimpinan China dalam pertemuan tersebut. Meski demikian, konflik Iran berpotensi membuat pembahasan lebih sensitif menjelang kunjungan Trump ke China yang menurut Gedung Putih dijadwalkan dimulai pada 31 Maret.
Li juga menyinggung "hasil positif" dari lima putaran pembicaraan perdagangan antara China dan Amerika Serikat. Ia menyatakan kerja sama ekonomi dan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut kini berada pada "landasan yang lebih stabil."
Pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa Beijing masih menaruh nilai jangka panjang pada hubungannya dengan Washington dan tidak ingin mengambil risiko konfrontasi langsung terkait konflik Iran.
Sumber: NBC News
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 21 jam yang lalu
EKBIS | 20 jam yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu







