Profil Mojtaba Khamenei, Sosok Kekuatan di Balik Layar yang Kini Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 09 Maret 2026 | 13:30 WIB
Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran. (Foto/istimewa)
Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran. (Foto/istimewa)

BeritaNasional.com - Pascatewasnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS-Israel, Iran kini memasuki babak baru. 

Dilansir dari BBC News pada Senin (9/3/2026), sosok putra keduanya, Mojtaba Khamenei, telah resmi terpilih sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Meski namanya sudah lama malang-melintang di pusat kekuasaan, sosok berusia 56 tahun ini dikenal sangat tertutup dan misterius.

Berbeda dengan mendiang ayahnya, Mojtaba hampir tidak pernah muncul di depan publik. 

Ia tidak memiliki riwayat jabatan di pemerintahan, belum pernah memberikan wawancara media, bahkan dokumentasi berupa foto atau videonya sangat terbatas.

Meski irit bicara di depan kamera, pengaruh Mojtaba di internal Iran disebut sangat besar. 

Dokumen bocoran WikiLeaks dari kabel diplomatik AS akhir 2000-an menjulukinya sebagai The Power behind the Robe atau kekuatan di balik jubah. Ia dianggap sebagai figur yang sangat cakap dan berpengaruh dalam mengendalikan roda rezim dari balik layar.

Namun, pengangkatannya bukan tanpa tantangan. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran menganut prinsip bahwa pemimpin tertinggi dipilih berdasarkan kualifikasi agama dan kepemimpinan, bukan warisan turun-temurun seperti sistem monarki yang mereka gulingkan dulu. 

Hal inilah yang sempat memicu perdebatan mengenai etik suksesi di tubuh Republik Islam.

Perjalanan Menuju Gelar Ayatollah

Lahir di Mashhad pada 1969, Mojtaba sempat mencicipi dunia militer di usia 17 tahun saat Perang Iran-Irak berkecamuk. Pengalaman pahit perang inilah yang diyakini membentuk sikap skeptisnya yang mendalam terhadap Barat.

Baru pada usia 30 tahun, ia memutuskan untuk mendalami teologi Syiah di kota suci Qom. 

Menariknya, belakangan ini, media-media yang dekat dengan kekuasaan mulai menyematkan gelar Ayatollah di depan namanya. 

Langkah ini dinilai para pengamat sebagai upaya kilat untuk memperkuat legitimasi agamanya, mengingat gelar senior tersebut adalah syarat mutlak untuk menjadi Pemimpin Tertinggi.

Rekam Jejak Politik

Nama Mojtaba mulai memicu kontroversi pada Pemilu 2005 dan 2009. Saat itu, ia dituduh oleh tokoh reformis ikut campur tangan memenangkan Mahmoud Ahmadinejad melalui pengaruhnya di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij.

Tuduhan ini memicu gelombang protes besar yang dikenal sebagai Green Movement. Kala itu, para demonstran bahkan meneriakkan slogan penolakan terhadap gagasan suksesi turun-temurun dari Ali Khamenei ke Mojtaba.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: