Fluktuasi Tajam Minyak Global, Pemerintah Hati-hati tak Mau Tergesa Ubah Kebijakan Fiskal

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Selasa, 10 Maret 2026 | 20:45 WIB
Iran tutup Selat Hormuz jalur strategis perdagangan minyak dunia (Foto/Freepik)
Iran tutup Selat Hormuz jalur strategis perdagangan minyak dunia (Foto/Freepik)

BeritaNasional.com -  Pemerintah mencermati kenaikan harga minyak global dengan kehati-hatian agar tidak tergesa mengubah kebijakan fiskal.

Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Istana Presiden Jakarta Pusat dalam menyikapi harga minyak dunia yang mengalami fluktuasi tajam dalam tiga hari terakhir serta dampaknya terhadap kenaikan harga BBM menjelang Idul Fitri di Indonesia.

"Jadi kita lihat, pastikan betul enggak naik, betul enggak turun. Begitu beberapa hari, beberapa minggu naik. Ya sudah, kita bisa antisipasi naik terus. Ini kan enggak, naik, tiba-tiba turun lagi," ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Pemerintah jelas Purbaya akan terlebih dahulu memastikan arah pergerakan harga sebelum mengambil langkah penyesuaian dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Lonjakan harga minyak yang terjadi saat ini masih relatif baru sehingga belum cukup menjadi dasar untuk mengubah asumsi anggaran, termasuk terkait subsidi energi.

"Nanti, kalau harga minyak turun, kita ubah lagi. Repot kan. Jadi, menetapkan respons APBN itu lebih hati-hati dibanding dengan merespons gerakan saham," katanya.

Menurut Purbaya, subsidi BBM dari APBN yang berlaku saat ini ditentukan dalam setahun anggaran senilai 70 dolar AS per barel.

"Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh, rata-rata setahun 70 dolar AS per barel, asumsi kita. Ini kan baru beberapa hari saja"

Pemerintah sambungnya tidak akan langsung merespons setiap pergerakan harga minyak yang naik turun dalam waktu singkat.

Menurutnya, perubahan kebijakan fiskal membutuhkan pertimbangan yang lebih matang dibanding respons pasar keuangan yang bersifat harian.

“Jadi, kita pastikan dulu seperti apa arah gerakannya. Setelah benar-benar jelas, baru kita ajak semua pihak untuk mengambil langkah,” katanya.

Meski demikian, Purbaya memastikan kondisi fiskal pemerintah masih kuat untuk menghadapi tekanan eksternal, termasuk kemungkinan kenaikan harga energi global.

Pemerintah juga terus memantau perkembangan pasar energi dunia sambil menyiapkan langkah antisipasi jika tren kenaikan harga berlangsung lebih lama.

Purbaya memberi waktu satu bulan untuk mengevaluasi potensi penyesuaian APBN.

Ia menegaskan, kehati-hatian dalam merespons dinamika harga minyak global merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas fiskal dan memastikan kebijakan anggaran tetap kredibel di tengah ketidakpastian ekonomi global. (Antara)

 sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: