OPEC Revisi Proyeksi Permintaan Minyak Global 2026, Negara Non-OECD Jadi Motor Utama

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 14 Mei 2026 | 12:55 WIB
Ilustrasi Gedung OPEC+. (Foto/Dok OPEC+)
Ilustrasi Gedung OPEC+. (Foto/Dok OPEC+)

BeritaNasional.com - Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) baru saja merilis laporan bulanan terbaru yang memberikan gambaran mengenai dinamika pasar minyak dunia untuk beberapa tahun ke depan. 

Dalam laporan tersebut, OPEC melakukan penyesuaian terhadap angka pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun 2026 dan 2027.

Pertumbuhan Tahun 2026 Sedikit Melambat

Berdasarkan laporan pasar minyak bulanan yang dirilis pada hari Rabu, OPEC memproyeksikan permintaan minyak dunia pada tahun 2026 akan tumbuh sebesar 1,2 juta barel per hari (bpd) secara tahunan. Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan perkiraan pada bulan April lalu yang sempat menyentuh angka 1,4 juta bpd.

Meskipun ada revisi turun untuk tahun 2026, tren positif diperkirakan kembali menguat pada tahun berikutnya. 

Pada 2027, permintaan diprediksi akan meningkat sekitar 1,5 juta bpd. Angka ini merupakan revisi ke atas (kenaikan) sebesar 200.000 bpd dibandingkan proyeksi awal yang dibuat pada bulan April.

Dominasi Pertumbuhan di Luar Negara Maju

Jika menilik dari perspektif regional, terdapat perbedaan kontras antara negara-negara maju (OECD) dan negara berkembang (non-OECD):

Tahun 2026:

Negara-negara OECD diperkirakan hanya menyumbang pertumbuhan permintaan sebesar 100.000 bpd.

Negara-negara non-OECD akan menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan mencapai 1,1 juta bpd.

Tahun 2027:

Pertumbuhan di wilayah OECD diprediksi sedikit meningkat menjadi 200.000 bpd.

Wilayah non-OECD tetap mendominasi dengan perkiraan lonjakan permintaan sebesar 1,3 juta bpd.

Laporan ini menegaskan bahwa pusat konsumsi energi global terus bergeser ke negara-negara berkembang, sementara pertumbuhan di negara-negara maju cenderung lebih stabil dan terbatas. 

Pihak OPEC akan terus memantau kondisi ekonomi global guna memastikan stabilitas pasokan di masa mendatang.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: