Studi Terbaru: Media Sosial Berdampak Buruk bagi Kesehatan Mental, Gen Z Paling Banyak
BeritaNasional.com - Apakah media sosial (medsos) berdampak negatif terhadap kesehatan mental penggunanya? Berdasarkan hasil studi eksperimental Princeton University bekerjasama dengan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang terbaru, ditemukan bahwa medsos punya pengaruh buruk terhadap kesehatan mental penggunanya, dan Gen-Z adalah kelompok yang paling banyak terdampak kesehatan mentalnya akibat medsos.
"Penonaktifan media sosial meningkatkan kesehatan mental secara substansial, terutama pada mereka yang berhenti menggunakan media sosial bersama seluruh anggota rumah tangga,” kata Peneliti dari Princeton University Nicholas Kuipers dalam presentasi survei bertajuk “Efek Media Sosial terhadap Kesehatan Mental” yang dikutip pada Selasa (17/3/2026).
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menjelaskan, variabel-variabel studi meliputi afeksi, kepuasan hidup, rasa cemas, depresi, dan kualitas tidur.
"Hasil studi menunjukkan bahwa kesehatan mental Kelompok T1 dan T2 setelah periode treatmen selama 1 bulan secara umum menjadi lebih baik dibanding Kelompok Kontrol," terangnya.
Kemudian, ditemukan juga bahwa gangguan kesehatan mental (mental health) dan emosional akibat medsos ini paling banyak dialami Gen-Z atau generasi Z. Hasil studi menunjukkan ada 10 persen warga yang mengaku mengalami kesehatan mental dan emosional yang buruk atau sangat buruk, dan ada 90 persen yang menyatakan cukup baik atau sangat baik.
Deni menjelaskan, dari sisi usia, Gen-Z yang lahir setelah 1997 paling banyak mengalami gangguan kesehatan mental dan emosional yakni 16 persen. Sementara generasi millenial (lahir 1981-1996) 8 persen, Gen-X (lahir 1965-1980) 7 persen, dan Boomers+ (lahir sebelum 1965) 7 persen.
Deni menyampaikan, studi ini dilakukan berdasarkan metode eksperimental terhadap populasi pengguna medsos di 30 ibu kota provinsi di Indonesia dengan 1.502 responden yang dipilih secara acak (stratified multistage random sampling) dan diwawancara online dua kali dalam bentuk panel. Wawancara pertama dilakukan ketika responden dalam keadaan biasa beraktivitas dengan medsos mereka.
Kemudian, responden ini dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok yakni, kelompok yang diminta untuk menghentikan penggunaan medsos setelah wawancara pertama sampai wawancara kedua (T1), kelompok responden yang diminta bersama-sama dengan semua anggota rumah tangga untuk tidak menggunakan medsos setelah wawancara pertama sampai wawancara kedua (T2), dan kelompok responden yang tetap dipersilakan menggunakan medsos seperti biasa sejak wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kontrol).
Jarak waktu wawancara 1 dan 2 selama sebulan, wawancara 1 dilakukan pada 17 November–15 Desember 2025, dan wawancara 2 dilakukan pada 16 Desember–14 Januari 2026. Studi ini sepenuhnya dibiayai oleh Princeton University.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







