Nyari Ikan, Seorang Kakek Malah Dapat Buaya
BeritaNasional.com - Niat hati ingin mencari ikan, seorang kakek di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, malah mendapati seekor buaya terjerat pada jala miliknya yang kemudian ia bawa pulang ke lingkungan tempat tinggalnya di Mentawa Baru Ketapang, Sampit.
“Saya memasang jala untuk menangkap ikan atau udang. Memang sering jala saya rusak karena buaya masuk, tapi biasanya langsung keluar. Baru kali ini yang tertangkap,” kata kakek yang bernama Marliansyah tersebut di Sampit.
Marliansyah menceritakan kronologi tertangkapnya buaya tersebut. Sekitar pukul 06:00 WIB, Marliansyah yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan ini memeriksa jala ikan yang ia pasang di Sungai Marjan yang berjarak sekitar 3 kilometer dari kediamannya.
Namun, tak mendapat ikan seperti yang diharapkan. Ia malah mendapatkan seekor buaya berukuran 1,2 meter terjerat di jala miliknya.
Satwa tersebut malah memakan ikan yang terperangkap di jala, tetapi justru buaya itu juga ikut terjerat.
Saat ditangkap pun sisa jala ikan tampak masih terselip di antara gigi tajam satwa yang terkenal buas tersebut. Marliansyah kemudian mengangkut buaya tersebut ke perahu motor miliknya dan kemudian dibawa ke lingkungan kediamannya.
“Sengaja saya bawa ke sini supaya anak-anak yang biasa berenang di sungai itu takut dan tidak lagi berenang di sungai. Karena bahaya kalau sampai nanti mereka diserang buaya saat berenang,” ujarnya.
Kedatangan si kakek dengan membawa seekor buaya ini pun menarik perhatian warga sekitar. Seketika lokasi tersebut menjadi arena tontonan dadakan.
Sebagian tampak masih takut meskipun satwa itu dalam kondisi terikat, namun sebagian lagi, terutama anak-anak justru terlihat penasaran dan mendekat untuk menyentuh satwa itu.
Marliansyah menambahkan, kemunculan buaya di wilayah tersebut sebenarnya sudah sering dan ukurannya pun beragam, tapi baru kali ini tertangkap. Biasanya buaya terlihat berjemur di tepi sungai saat air surut dan saat ada manusia, satwa itu cenderung menghindar.
Ia juga mengaku belum pernah mendengar informasi terkait serangan buaya di wilayah tersebut. Meski begitu, ia berharap masyarakat setempat bisa lebih berhati-hati.
Tujuan Marliansyah membawa satwa tersebut ke area pemukiman pun semata-mata sebagai peringatan bagi masyarakat bahwa ancaman serangan buaya itu benar-benar nyata, sehingga para orang tua bisa lebih mengawasi anak-anak yang bermain di sungai.
Penangkapan buaya ini turut menarik perhatian Komunitas Pecinta Reptil Sampit yang segera ke lokasi setelah menerima informasi dari warga. Harie bersama rekannya dari komunitas tersebut bermaksud untuk mengamankan satwa tersebut setelah berkomunikasi dengan warga setempat.
“Buaya ini sementara kami amankan di shelter (tempat perlindungan) kami dulu, sambil kami berkoordinasi dengan perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk tindak lanjutnya,” ujar Harie.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sebagai kepanjangan tangan KLHK yang dulunya menangani buaya kini sudah tidak berwenang. Sedangkan, Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak Satpel Kalimantan Tengah terdekat yang kini diberi kewenangan tersebut berada di Kabupaten Kotawaringin Barat.
“Sekarang kan BKSDA sudah tidak bisa menangani evakuasi buaya lagi, jadi kami berinisiatif untuk membantu,” ucapnya.
Harie menambahkan, satwa liar yang dilindungi Undang-Undang tersebut rencananya akan dilepasliarkan hari ini juga, setelah mendapat persetujuan dari Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak Satpel Kalimantan Tengah.
Sumber: Antara
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu






