Idrus Marham Nilai Kebijakan Presiden Sudah Mendasar, Prospektif, dan Antisipatif
BeritaNasional.com - Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham, melontarkan kritik tajam terhadap para pembantu Presiden Prabowo Subianto, khususnya menteri dan juru bicara presiden. Ia menilai, berbagai kebijakan strategis yang telah dirancang secara matang justru tidak tersampaikan dengan baik kepada publik karena lemahnya narasi dan penjelasan dari pihak yang seharusnya mendukung kebijakan presiden.
Menurut Idrus, persoalan utama bukan terletak pada substansi kebijakan pemerintah. Ia meyakini arah kebijakan Presiden Prabowo telah memiliki fondasi yang kuat, mulai dari ideologi, falsafah bangsa, konstitusi, hingga asas kebersamaan sebagai bangsa majemuk. Namun, kelemahan komunikasi dinilai membuat kebijakan tersebut kerap disalahpahami masyarakat.
“Itu memang sudah terencana dengan berbagai proyeksinya, bukan tiba masa tiba akal,” ujar Idrus Ketua Koalisi Merah Putih 2014 kepada wartawan, Minggu (29/3/2026).
Idrus menegaskan, tanpa penjelasan yang utuh dan sistematis, publik akan melihat pemerintah seolah berjalan tanpa arah. Ia menilai para pembantu presiden seharusnya membackup kebijakan yang dikeluarkan Presiden untuk kepentingan rakyat, bukan sebaliknya. Menurut dia, kritik yang muncul bukan karena kebijakan itu keliru, melainkan karena tidak dijelaskan secara komprehensif sejak awal.
Pandangan tersebut, kata Idrus, sejalan dengan kritik sejumlah kalangan, termasuk Said Didu, yang menilai niat baik presiden patut diapresiasi, tetapi harus diikuti dengan implementasi konkret yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Idrus pun menilai pemerintahan Prabowo memulai langkahnya dengan niat baik yang selaras dengan ideologi dan falsafah bangsa. Komitmen itu, lanjut dia, tercermin dalam upaya menjadikan Indonesia sebagai “rumah besar bersama”, sekaligus mendorong partisipasi seluruh elemen bangsa dalam merawat dan membangun Indonesia.
Ia juga menyoroti pentingnya kesinambungan pembangunan nasional. Menurut Idrus, program-program strategis dari pemerintahan sebelumnya tetap dilanjutkan, termasuk hilirisasi industri yang dinilai penting untuk memperkuat kemandirian ekonomi. Selain itu, pemerintah disebut telah merumuskan kebijakan mendasar yang bersifat prospektif dan antisipatif, seperti ketahanan energi, ketahanan pangan, pengembangan teknologi termasuk kecerdasan buatan (AI), hingga pemberdayaan koperasi dan UMKM, serta perhatian Presiden untuk menghilangkan Serakanomics.
"Secara konsep itu sudah benar. Ini kebijakan mendasar, prospektif, dan antisipatif,” kata dia.
Meski demikian, Idrus kembali mengingatkan bahwa kebijakan besar membutuhkan narasi yang kuat, terbuka, dan konsisten. Ia menilai pemerintah harus mampu menjelaskan tindak lanjut kebijakan secara rinci, termasuk berbagai skenario yang mungkin terjadi.
“Perlu dijelaskan tindak lanjut kebijakan itu seperti apa, dari pilihan terbaik sampai yang terburuk. Itu harus disampaikan secara terbuka,” ujarnya.
Dalam kritiknya, Idrus secara spesifik menyoroti peran para pembantu presiden, terutama menteri dan juru bicara. Ia menilai keduanya belum optimal dalam menjelaskan narasi kebijakan dan belum konkret menerjemahkan arah kebijakan presiden kepada publik.
“Juru Bicara itu tidak mampu menjelaskan narasi argumentasi kebijakan. Mestinya setiap kebijakan dijelaskan sejak awal, bukan setelah ada kritik. Jurubicara harus secara kreatif menjelaskan narasinya, bukan sekadar menjawab,” tegasnya.
Ia menambahkan, para menteri juga harus lebih cerdas dalam menerjemahkan kebijakan strategis presiden ke dalam program-program konkret yang mudah dipahami masyarakat. Menurut Idrus, pola komunikasi pemerintah selama ini masih cenderung reaktif karena penjelasan sering kali baru muncul setelah kebijakan menjadi polemik di ruang publik.
“Harusnya dijelaskan lebih dulu, lebih awal, sebelum jadi polemik. Kalau rakyat sudah paham, kritik yang muncul justru menjadi solusi,” ujarnya.
Di tengah kritik tersebut, Idrus juga menyoroti tekanan global yang semakin nyata, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Menurut dia, konflik tersebut berdampak pada terganggunya pasokan energi global, termasuk di kawasan ASEAN. Ia menyebut sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, dan Laos mulai mengambil langkah penghematan energi dan pengendalian distribusi BBM, bahkan Filipina dilaporkan menetapkan status darurat energi nasional akibat tekanan pasokan.
Menurut Idrus, kondisi global seperti itu seharusnya dijelaskan secara terbuka kepada publik agar masyarakat memahami bahwa kebijakan pemerintah tidak berdiri di ruang kosong, melainkan dipengaruhi dinamika internasional. Ia juga menyinggung polemik terkait posisi Indonesia dalam berbagai forum internasional yang kerap disalahartikan sebagai bentuk keberpihakan.
“Masuknya Indonesia ke forum tertentu itu bukan berarti tunduk. Itu strategi komunikasi politik agar kita bisa ada di berbagai forum untuk menjelaskan posisi kita secara lebih luas,” kata Idrus.
Di sisi lain, Idrus menegaskan bahwa Partai Golkar tetap berada dalam barisan pendukung pemerintah. Ia menyebut dukungan tersebut merupakan bagian dari instruksi Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.
“Sesuai arahan dan instruksi Ketua Umum, Bahlil Lahadalia, seluruh jajaran Partai Golkar mendukung sepenuhnya kebijakan yang diambil Presiden Prabowo,” kata Idrus.
Idrus menegaskan, Bahlil meminta seluruh jajaran Golkar selalu berada di garis terdepan dalam mengimplementasikan, menerjemahkan, dan menjelaskan kebijakan pemerintah kepada masyarakat.
“Partai Golkar harus Total menjadi bagian terdepan untuk memastikan bahwa kebijakan presiden yang bersifat mendasar, prospektif, dan antisipatif dapat dipahami rakyat,” ujar Idrus menekankan arahan Ketua Umum Golkar, Bung Bahlil Lahadalia.
Pada akhirnya, Idrus menekankan bahwa keberhasilan suatu kebijakan tidak hanya ditentukan oleh substansi, tetapi juga oleh cara penyampaiannya kepada publik.
“Substansi penting, tapi narasi juga menentukan. Tanpa komunikasi yang jelas, kebijakan yang benar pun bisa dianggap salah,” tutup idrus.
EKBIS | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 18 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 22 jam yang lalu
EKBIS | 17 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu





