Inflasi Ramadan 2026 Melandai, Pemerintah Berhasil Kendalikan Harga Pangan
BeritaNasional.com - Pemerintah berhasil menjaga stabilitas inflasi selama Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri dan Nyepi 2026. Tidak hanya inflasi umum yang melandai, inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) atau inflasi pangan juga tetap terkendali tanpa mengalami deflasi, berbeda dari pola yang kerap terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi umum secara bulanan pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,41 persen, menurun dibandingkan Februari yang mencapai 0,68 persen. Sementara itu, inflasi pangan juga mengalami penurunan menjadi 1,58 persen setelah pada Februari berada di level 2,50 persen.
"Inflasi pada bulan Maret tahun 2026 yang bertepatan tadi dengan momen Lebaran mengalami inflasi secara month to month-nya 0,41 persen. (Ini) lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan Februari tahun 2026," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dikutip, Sabtu (4/4/2026).
Ateng menjelaskan, inflasi secara umum didorong oleh komponen harga bergejolak yang didominasi komoditas pangan strategis seperti daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, dan daging sapi. Komponen ini memberikan andil terbesar dibandingkan inflasi inti maupun harga yang diatur pemerintah.
"Inflasi Maret tahun 2026 sebesar 0,41 persen. Ini terutamanya didorong oleh inflasi komponen harga bergejolak. Komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 1,58 persen. komponen ini memberikan andil inflasi terbesar, yaitu 0,27 persen," tambahnya.
Jika melihat tren dalam tiga tahun terakhir, periode pasca-Idul Fitri biasanya diikuti deflasi pangan. Pada 2024, inflasi pangan Maret tercatat 2,16 persen namun berbalik menjadi deflasi 0,31 persen pada April. Pola serupa terjadi pada 2025, ketika inflasi 1,96 persen pada Maret berubah menjadi deflasi tipis 0,04 persen pada bulan berikutnya.
Namun pada 2026, pola tersebut berubah. Inflasi pangan tetap berada di level positif sebesar 1,58 persen, yang mencerminkan stabilitas pasokan dan harga yang lebih terjaga.
Sementara, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menilai stabilitas harga pangan menjadi faktor utama dalam menjaga inflasi tetap terkendali. Menurutnya, keseimbangan harga dari tingkat produsen hingga konsumen harus terus dijaga.
"Menurunnya inflasi di Maret ini tentu menjadi kabar baik. Tingkat inflasi terus terjaga positif dan tidak terjadi deflasi. Artinya semua rantai pasok pangan mulai dari petani, peternak, pedagang sampai masyarakat, nyaman bersama. Ini memang sesuai arahan Kepala Bapanas Bapak Andi Amran Sulaiman," ujar Ketut.
Secara tahunan, inflasi umum pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,48 persen, masih berada dalam target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen, serta menurun dari bulan sebelumnya yang mencapai 4,76 persen.
Adapun inflasi pangan secara tahunan juga turun tipis menjadi 4,24 persen dari sebelumnya 4,64 persen. Angka tersebut masih berada dalam target inflasi pangan tahunan yang dipatok di kisaran 3 hingga 5 persen.
Secara terpisah, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya penguatan ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi dalam negeri.
"Kalau pangan tidak kita kuasai, negara bisa ditekan. Tapi hari ini kita buktikan. Produksi naik, impor turun, dan Indonesia semakin kuat. Ketahanan pangan adalah benteng utama. Kalau ini kuat, Indonesia tidak hanya aman, tapi juga berdaulat penuh. Harga pangan pun harus dijaga baik dan tidak boleh ada yang memainkan harga sampai merugikan masyarakat Indonesia," tegasnya.
Dalam upaya menjaga stabilitas, pemerintah juga menggulirkan sejumlah program stimulus ekonomi melalui Perum Bulog sepanjang Maret, termasuk penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng. Hingga kini, realisasinya telah menjangkau 864.041 penerima, dengan total distribusi beras mencapai 17,28 juta kilogram dan minyak goreng 3,45 juta liter.
Selain itu, penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) selama Maret mencapai 66,84 ribu ton, guna menyediakan alternatif beras dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat.
Pemerintah juga mengintensifkan pelaksanaan pasar murah melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM). Sepanjang Maret, program ini telah dilaksanakan sebanyak 1.161 kali di 202 kabupaten/kota di 34 provinsi dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, BUMN, BUMD, dan sektor swasta.
Di sisi hulu, pemerintah bersama Perum Bulog juga memperkuat cadangan pangan dengan menyerap hasil panen petani. Hingga Maret, penyerapan gabah atau setara beras mencapai 1,47 juta ton, sementara penyerapan jagung mencapai 122,48 ribu ton.
Pengawasan harga pangan juga diperketat selama Ramadan hingga setelah Idul Fitri. Tercatat, sebanyak 64.548 titik telah menjadi lokasi pengawasan sejak awal Februari hingga akhir Maret, sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga dan kualitas pangan di pasar.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu






